Pandemi Virus Corona/ Covid-19 Jadi Benang Merah Bumi Pertiwi RI

Kapan virus ganas bernama Corona/Covid-19 tahun 2020 yang singgah di muka bumi ini segera hengkang dicabut oleh Tuhan. Belum genap sebulan, virus yang tidak bisa dilihat oleh mata ini dampaknya mengerikan. Tidak hanya sektor atau lini perekonomian yang porak poranda, tetapi dunia pendidikan ikut lumpuh. Ada dosa apa manusia di muka bumi ini, sampai sampai tiada satupun negeri yang tak terlanda atau terlewati. Sampai kapan kita hidup seperti ini, pro kontra antara wong cilik dan orang kaya kian menggejala. Urusan sandang, pangan, dan papan, jadi tema yang bergejolak, mengikis peradaban sosial kita. Dua orang Doktor yang pernah belajar ilmu humanisme yakni Dr. H. Purwo Haryono, M.Hum (Wakil Rektor 1 UNWIDHA) Klaten, dan Dr. Drs. H. Anwar Hamdani, SH, SE, MM, M.Hum (Mantan Ketua STIE AUB, dan Pernah jadi Ketua Pansel Bagi Calon Pejabat Eselon 2 Solo Raya) ini turut serta angkat bicara persoalan pelik yang sedang dihadapi oleh negara. Kita sedang di uji alam, secara kajian iman keagamaan, di dalamnya pasti bumi ini ada masalah dan apa masalah itu lalu hak apa yang harus kita berikan kepada bumi, khususnya negeri yang kita cintai ini.
Menurut Doktor Purwo dan Doktor Anwar ada masalah yang harus diurai di negeri ini. Secara kepercayaan atau religius yang majemuk kita harus instrospeksi, mawasdiri, dan ada evaluasi. Apa itu masalahnya, seperti dikutip oleh dua orang Doktor pendidikan yang lahir di Pacitan Jatim, dan Klaten dimuat di rubrik koran harian Solopos Embun Pagi bahwa setiap masalah itu harus dihadapi secara arif dan bijaksana.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa Pandemik Covid-19 berpengaruh besar terhadap kehidupan kampus baik dari sisi akademik maupun non-akademik. Dari sisi akademik, pandemik yang menggemparkan dunia ini telah mengubah tatanan praktik pembelajaran dari sebagian besar dilakukan dengan tatap muka di kelas (hanya sebagian kecil dilaksanakan secara daring) menjadi hampir 100% menggunakan cara online. Hal ini, pertama, harus kita terima sebagai suatu kenyataan dan harus kita sikapi secara arif. Kedua, kita wajib memberikan respon terhadap kondisi pandemik Covid-19 ini dengan mematuhi arahan pemerintah dan para ulama.
Unwidha telah melakukan serangkaian kegiatan untuk meringankan beban masyarakat dengan mendistribusikan hand sanitizer yang dibuat di laboratorium kimia Unwidha ke beberapa instansi, tempat ibadah, dan masyarakat desa sekaligus sebagai perwujudan dari pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat dengan nama Unwidha Peduli. Dari sisi non-akademis, Covid-19 telah mengubah tatanan manajemen di kampus yang sudah direncanakan secara matang sekian bulan yang lalu. Manajemen WfH merupakan tantangan sekaligus panggilan untuk tetap memberikan pelayanan kepada mahasiswa dan masyarakat sekitar. Para dosen tetap harus memberikan pelayanan terbaik bagi para mahasiswa agar proses pembelajaran tetap berjalan.
Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan dan dihadapi. Wabah atau musibah ini pun begitu adanya, ia datang dan membawa masalah. Kerangka berpikir kita ini perlu ditata yaitu kita mesti menempatkan masalah itu sebagai objek yang harus kita lihat, kita sikapi dan kita hadapi. Kita adalah subjeknya, jangan terbalik. Sebab, sudut pandang kita terhadap sesuatu akan membentuk dan menentukan bagaimana kita menyikapinya.
Maka inti sebenarnya bukan pada berat atau ringannya masalah, tetapi pada kita dalam memandang dan menyikapinya. Mari kita memandang, menilai dan menyikapinya dari sudut pandang ilmu.
Jadi, kita haruslah memiliki ilmu pada diri kita dalam menghadapi dan menyikapi wabah ini: ilmu tentang iman dan menyikapi takdir Allah, ilmu tentang kesabaran, ilmu tentang ketenangan, ilmu bimbingan-bimbingan agama mengenai wabah, ilmu tentang tawakal, ilmu tentang tindakan dan usaha, ilmu tentang kepasrahan kepada Allah dan juga ilmu bagaimana memetik hikmah dari musibah, juga ilmu tentang wabah itu sendiri.(ries/r)

Related posts