Dr. Eko Joko Trihadmono, M.Pd (Guru SMKN 8 Surakarta, Direktur CallistaTV) Guru Harus Bercermin Pada Budaya Jawa

Lulusan S3 Linguistik UNS ini semakin produktif dalam menulis buku. Dalam waktu dekat akan menerbitkan beberapa judul buku yang kesemuanya terkait buku ajar, tentang pendidikan karakter. Sebenarnya guru harus banyak bercermin pada budaya Jawa. Menurutnya dalam budaya kita banyak kajian, ajaran yang sangat luhur dan luas.
Sebenarnya dalam mendidik budi pekerti anak itu seorang guru harus banyak referensi. Dalam budaya Jawa banyak warisan leluhur dari A sampai Z tertulis, namun guru harus mau dan bisa mengungkapkan tabir makna tersirat dalam sebuah karya sastra Jawa.
Seperti Serat Tripama karya KGPAA Mangkunegara IV, berbentuk tembang macapat dandanggula terdiri 7 bait ( pada= jw).
Untuk para prajurit muda, anak muda agar meniru pribadi seorang Patih Suwanda (Sumantri) dari kerajaan Maespati, walau dia Patih yang pintar, kaya dan sakti namun tetap tunduk dan berbakti kepada raja Harjunasasrabau.
Kalau mungkin di era sekarang banyak orang yang tahu sedikit tentang ilmu, harta saja sudah berani makar atau membuli seorang presiden. Ini tidak diajarkan oleh serat Tripama.
Tokoh kedua yang patut di tiru adalah Raden Karna (Basukarna) yang sejak kecil dipelihara oleh keluarga Kurawa bahkan diberi negara namanya Awangga. Sebetulnya Raden Karna itu keturunan Pandawa. Namun dalam perang Baratayudha Raden Karna tetap membela Kurawa dan menjadi senopati perang Kurawa bertanding dengan Arjuna wakil dari Padhawa, yang masih adiknya sendiri.
Sikap Raden Karna ini dikatakan dia seorang ksatria sejati yang mengerti tentang balas budi kepada keluarga Kurawa.
Tokoh ketiga adalah Kumbakarna adik raja Dasamuka( Rahwana) dari Alengka.
Kerajaan Alengka diserang oleh bala tentara kera utusan dari Prabu Ramawijaya dari kerajaan Ayodya. Peperangan dipicu oleh tindakan nista oleh Dasamuka yang merebut Shinta istri Prabu Ramawijaya. Peperangan terjadi, Alengka hampir mengalami kekalahan. Tinggal Kumbakarna yang belum maju perang. Ketika Kumbakarna diperintah sang kakak Dasamuka untuk perang, Kumbakarna mau maju perang. Akhirnya Kumbakarna maju perang bukan karena membela kakaknya di Dasamuka yang merebut istri Prabu Rama, melainkan karena membela tanah airnya yang hancur akibat diserang tentara Ayodya. Berniat dari cinta tanah air inilah Kumbakarna maju perang walaupun gugur.
Inilah makna yang tersirat dalam karya sastra Jawa yang perlu dikabarkan oleh guru kepada muridnya, terlebih anak-anak jaman Milenial saat ini. Semoga menjadi inspirasi.(ries/r)

Related posts