Dian Nur Mastuti, SE, MM (Kepala BAU STIE AUB) Surakarta Prioritaskan Keamanan dan Kesehatan Keluarga

Merekam aspirasi rakyat cilik terkait situasi dan kondisi perekonomian Indonesia yang disebabkan oleh pandemi virus Corona, sangat mencengangkan. Entah sampai kapan pandemi ganas ini dicabut oleh Tuhan, kasihan kawulo alit yang tidak punya gaji, kerjanya serabutan. Mereka tidak tahu akan apa yang besok dimakan. Mereka mulai mengeluh, aktivitas dagangnya terhenti, sepi, dan banyak yang dirumahkan, atau dipecat karena produknya harus berhenti. Kasak kusuk membicarakan nasib wong cilik. Bagi mereka PNS atau pegawai yang punya gaji bulanan tidak masalah, jika disuruh banyak dirumah, atau kerja via online. Okelah, itu mereka. Lantas bagaimana dengan orang kecil yang tidak punya gaji, yang ada cuma upah harian, ngalamat sudah. Yang terjadi hanya tangisan, tetesan air mata yang terlihat. Terlepas itu, urusan pendidikan juga kacau balau, anak anak yang sudah siap Ujian Nasional (UN) akhirnya batal, padahal UN itu parameter mutu dan kualitas pendidikan kita. Tetapi mau apalagi, semua ini sudah menjadi kebijakan pemerintah yang dalam hal ini kewenangan Mendiknas.
Menjawab pertanyaan majalah Didik tentang UN dibatalkan, apakah tidak mempengaruhi kualitas atau mutu pendidikan, menurut saya pasti ada dampak positif dan negatifnya.
Berkaitan dengan pembatalan ujian nasional terkait pandemi Covid 19 saya kira pemerintah sudah memikirkan berbagai aspek ketika menetapkan kebijakan tersebut. Sekarang yang lebih diprioritaskan adalah keamanan dan kesehatan siswa dan keluarga. Selain itu untuk mendukung kebijakan social distancing/physical distancing. Namun demikian dalam pelaksanaan kebijakan pembatalan itu pemerintah perlu menjelaskan lebih rinci teknis kelulusan seperti apa karena kondisi masing-masing sekolah berbeda beda.Disisi lain dalam kondisi yang terbatas, sekolah dan perguruan tinggi perlu menyiapkan syarat syarat dan tehnis seleksi calon siswa dan mahasiswa.(ries/r)

Related posts