Dampak Pandemi Virus Corona, UN Batal

Wabah virus Corona tidak hanya berdampak negatif pada sektor pariwisata, perekonomian rakyat, keamanan, tetapi juga pada sektor pendidikan. Salah satu program jitu yang sejak dulu dijadikan parameter atau ukuran mutu dan kualitas pendidikan kita adalah Ujian Nasional. Pro kontra atas keputusan Mendiknas bahwa UN tahun 2020 dibatalkan. Seperti apa tanggapan mereka, berikut redaksi majalah Didik menyampaikan pendapat dari para nara sumber. Mereka adalah Drs. H. Suhadi, SH, S.Pd, MM, M.Pd, M.AP (Ketua Yayasan Al Hadi Utomo) Sragen, dan mantan Kepala SMK Kosgoro 1 Sragen. Menurutnya dampak signifikan adalah keraguan dan kebingungan DUDI ketika mau menerima calon karyawan, karena nanti tidak ada NEM. Pihak HRD akan lebih njlimet untuk mengetahui tentang skill yang dimiliki lulusan. Sementara itu menurut Dr. Tukiyo, M.Pd (Wakil Rektor 2 UNWIDHA) Klaten bahwa kualitas lulusan itu bisa dilihat dari berbagai sudut pandang.UN lebih merekam aspek kognitif, sementara aspek afektif dan psikomotor juga sangat penting. Di sinilah pentingnya peran guru dalam menentukan kelulusan siswa. Sedangkan jika UN dihapus, kita akan mengalami kemunduran, karena kita tidak tahu zonasi sekolah mana yang nilainya bagus.Sulit untuk menbedakan, tandas Dr. Anwar Hamdani, SH, SE, MM, M.Hum (Mantan Ketua STIE AUB, Ketua Pansel, dan Sekretaris YKDP Surakarta kepada Majalah Didik, Rabu 1 April 2020 di ruang kerjanya. Masih terkait dengan itu, Dr. Eko Prihatmono, S.Pd, M.Pd (Guru SMKN 8) Surakarta bahwa dibatalkannya UN kalau untuk SMK tidak terlalu bermasalah. Tetapi dampak positif dari UN tetap beda, tuturnya. Penilaian berbeda tentang dihapusnya UN diutarakan oleh Dr. Drs. Purwo Haryono, M.Hum (Wakil Rektor 1 UNWIDHA) Klaten bahwa dengan dihapusnya UN akan mempengaruhi penurunan kualitas secara kognitif itu pasti. Jika UN tetap diberlakukan, minimal siswa nyengkut belajar. Walau banyak juga yang kurang setuju dengan mengatakan bahwa kualitas pendidikan meningkat hanya sebatas hafalan saja. Tetapi tidak bisa kita pungkiri bahwa ketika masih ada UN pihak sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan caranya sendiri-sendiri.
Pendapat yang lain juga disampaikan oleh Sri Hastuti Lastyawati, S.Pd, M.Pd (Ketua MGMP PKn SMA/SMK se Solo Raya guru SMKN 4 Surakarta) ini, bahwa sangat berdampak positif karena meski UN dibatalkan USBK tetap berjalan lancar, meski lewat ONLINE . Dan dengan tanpa UN justru yang tadinya nilai-nilai harian, nilai mid semester, (sebagai nilai pengetahuan) , nilai sikap, nilai ketrampilan , nilai smt gasal dan genap, nilai praktek , nilai rapot dll hanya sebagai pendamping dan pelengkap. Saat ini semua nya digali dengan sungguh sungguh dan ini memaņg ditunggu tunggu malah bisa sebagai penentu kelulusan.
Jadi dengan adanya PANDEMI COVID-19 kita sebagai warga negara Indonesia yang beragama, kita mengambil hikmahnya.
Meski warga dilarang keluar rumah, kita menerima positif.
Sekolah tetap berjalan lancar, melalui online, Tingkat X, XI pelajaran berjalan lancar, TK XII yg sedang USBK juga berjalan lancar melalui online, rapat dinas melalui online juga lancar
Guru guru , karyawan, dan siswa yang tadinya belum mengenal PBM dan KBM serta RAPAT online, sekarang jadi melek meeting online , melek KBM online dan melek PBM online.Begitu menurut beliau.Pro kontra dihapusnya UN 2020 selain membuat keraguan DUDI juga sulit untuk melacak sekolah mana yang berkualitas. Tapi karena ini keputusan Mendiknas, kita yang dibawah tidak bisa berbuat, ungkap Giyadi, S.Pd (guru SMPN 2 Jatisrono, Wonogiri) kepada Didik. Menurut saya pribadi, jelas berdampak terhadap kualitas pendidikan ;
1. Semangat belajar bekurang
2. Tidak ada tantangan/kurang menantang dalam pendidikan/ belajar
3. Acuan dalam penerimaan siswa baru/ PPDB tidak ada
4. Antara siswa berprestasi dan tidak berprestasi tidak ada bedanya
5. Tidak dapat dalam pementaan pendidikan
6. Tidak dapat mengetahui standar pendidikan nasional.(ries/r)

Related posts