Agus Sumarno, S.Pd, MM, M.Pd (Kepala SMP Negeri 4 Pracimantoro, Alumni S2 MM STIE AUB Surakarta dan Wakil Ketua 1 PGRI Kabupaten Wonogiri) Pembatalan UN 2020 Sebaiknya Dikaji Ulang

Dibatalkanya UN 2020 mengundang pro kontra bagi masyarakat, khususnya dunia pendidikan. Ada yang setuju dan ada pula yang tidak. Terkait dengan itu, redaksi majalah Didik sejak UN 2020 dinyatakan batal oleh Mendikbud (karena virus Corona) sudah berulang kali meminta pendapat kepada beberapa nara sumber yang berasal dari berbagai lini/unsur, ada yang mengatakan senang dan gembira, tetapi juga ada yang kecewa atas batalnya UN. Banyak alasan dan pendapat dari mereka, itu sah sah saja, tetapi mau apalagi, karena keputusan itu atas nama pemerintah. Tetapi juga tidak salah jika masyarakat ikut urun rembug. Diterima ya syukur dan jika tidak juga tidak apa apa. Disini pemerintah sudah punya alasan dan solusi yang tepat dalam kebijaksanaanya.
Seorang nara sumber yang berhasil kami mintai pendapat tentang wabah virus Corona dan dampaknya, sehingga UN dibatalkan, apakah mempengaruhi pada kualitas/mutu pendidikan Indonesia.Berikut penuturan Kepala Sekolah yang dulunya adalah wartawan. Pria ini dikenal kritis, konseptor, kreatif, dan inovatif. Segala sesuatu yang sampai ditelinganya, jika memang tidak jelas, pasti akan dikonfirmasi lagi guna diperjelas. Komunikatif, itulah dia. Selalu ingin tahu dan perhatianya terhadap dunia pendidikan sangat kuat. Wajar jika ia dipercaya oleh pemerintah untuk menjadi guru dan menjabat sebagai Kepala Sekolah. Menanggapi tentang virus Corona, mantan wartawan Surakarta POS, dan alumni S2 STIE AUB ini menyatakan jika wabah Covid-19 sudah reda dan keadaan sudah pulih, sebaiknya kebijakan pemerintah membatalkan UN 2020 ditinjau ulang. Kalau kondisi sekarang memang masih emergency dan darurat wabah virus Corona, kita semua memaklumi dan tentu mendukung semua upaya dan langkah pemerintah. Namun jika nanti situasi sudah stabil dan normal kembali, sebaiknya kesulitan-kesulitan di sekolah pinggiran perlu mendapatkan perhatian.Redaksi mengajukan pertanyaan kepada pria yang suka sate kambing ini, ada jurang lebih 10 hal urgen terkait wabah virus Corona, dan UN serta dampaknya, berikut Pertanyaan:
1. Bagaimana dampak Covid-19 terhadap KBM di Kabupaten Wonogiri?
2. Apakah anak-anak juga belajar di rumah?
3. Bagaimana guru-guru menyikapi hal tersebut?
4. Apa dampak berikutnya terhadap mutu pendidikan nanti?
5. Kalau ada saran dan pendapat lain?
6. Mohon pendapat tentang penghapusan UN saat ini?
7. Bagaimana menyikapi aturan baru tentang US, UAS, dan pembelajaran model daring?
8. Bagaimana menyiapkan guru dan siswa untuk bisa melaksanakan kebijakan tersebut?
Jawaban Wawancara:

1. Dampak Covid-19 terhadap KBM sekolah-sekolah di Kabupaten Wonogiri sangat terasa. KBM tidak dapat dilaksanakan di sekolah. Sesuai surat edaran Kepala Disdikbud Kabupaten Wonogiri Nomor 421.7/1091 tertanggal 15 Maret 2020 bahwa sejak tanggal 16 s.d. 21 Maret 2020 siswa belajar sendiri di rumah (libur sekolah). Namun demikian, GTK diwajibkan masuk kerja dengan tetap mengisi presensi di aplikasi HADIRKU. Lalu melalui surat edaran kedua Nomor 800/1254 perihal pengaturan pola kerja bekerja dari rumah dan belajar di rumah, Kepala Disdikbud Kabupaten Wonogiri memperpanjang lagi masa belajar di rumah bagi siswa PAUD/TK/SD/SMP/Satuan PNF/Sanggar Seni, mulai 24 Maret hingga 8 April 2020.

2. Siswa terpaksa belajar sendiri di rumah. Guru ditugaskan untuk memberikan tugas-tugas pembelajaran kepada siswa secara online.

3. Menyikapi hal tersebut, guru tetap bekerja sesuai petunjuk Kepala Disdikbud Kabupaten Wonogiri. Meskipun di surat edaran kedua diputuskan, GTK bekerja dengan persentase bekerja di rumah (50%) dan bekerja di kantor (50%). Guru tetap memberikan tugas kepada siswa secara online. Siswa juga diperintahkan untuk belajar sendiri melalui sumber belajar di internet seperti melalui aplikasi Ruang Guru, Rumah Belajar, Jateng Pintar, Google Classroom, Office 365, Webex, Zoom, dan lain-lain.

4. Dampak atas situasi ini maka mutu pendidikan bisa menurun. Pasalnya, tidak semua siswa di daerah pinggiran memiliki handphone android, terkendala sinyal internet, dan kurangnya perhatian orangtua. Kalau belajar di sekolah, siswa langsung mendapatkan bimbingan guru maupun layanan pendidikan lainnya. Keadaan seperti ini sungguh mengkhawatirkan bagi masa depan pendidikan kita.

5. Saran dan pendapat saya, sebaiknya pemerintah melalui Kemendikbud memantau keadaan siswa di daerah pinggiran yang belum terfasilitasi oleh peralatan teknologi dengan baik. Pemerintah perlu memberikan bantuan kepada siswa dari keluarga kurang mampu berupa peralatan handphone android dan kelengkapan wifi internet.

6. Saya kurang setuju dengan penghapusan UN oleh Kemendikbud secara tiba-tiba saat ini. Pasalnya, guru, siswa, dan orangtua telah mempersiapkan program sukses UN dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Selama ini pelaksanaan UN masih dipandang perlu untuk mengetahui peringkat mutu sekolah di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Kalau UN ditiadakan, kemungkinan besar semangat siswa dan guru menjadi turun. Apalagi bagi sekolah yang akan melaksanakan UNBK tahun ini, tentu persiapan siswa dan fasilitas pendukungnya telah menelan biaya besar dan energi tinggi. Sekali lagi, ini adalah suara-suara keluhan guru di tingkat bawah.

7. Menyikapi aturan US, UAS, dan pembelajaran model daring, saya masih optimis bahwa ujian akhir masih diperlukan dan bermanfaat sebagai tolok ukur pencapaian mutu pendidikan. Pembelajaran model daring sebenarnya bagus di era teknologi informasi, namun belum tepat diterapkan bagi siswa di tingkat pendidikan dasar. Kecuali siswa di tingkat pendidikan menengah dan tinggi, pembelajaran model daring memang diperlukan.Sementara untuk siswa di tingkat SD dan SMP masih membutuhkan bimbingan guru dengan tatap muka langsung. Apalagi latar belakang siswa dari kalangan sosial yang heterogen, mereka masih memerlukan perhatian, motivasi, dan bimbingan yang kuat.

8. Saya selaku kepala SMP selalu berusaha untuk melaksanakan kebijakan pemerintah melalui Kemendikbud. Guru selalu dimotivasi agar terbuka terhadap perkembangan teknologi informasi dan mau belajar dari sumber apapun. Sedangkan siswa melalui bimbingan guru juga harus giat belajar, taat beribadah, dan menaati tata tertib yang berlaku. Kita harus optimis bahwa kemajuan teknologi harus diterima dengan positive thinking (berpikir positif), namun jangan sampai meninggalkan budaya lokal yang Adiluhung.(ries/r)

Related posts