Makna Natal dan Tahun Baru

Hari natal sudah menjadi hari perayaan yang universal, bukan lagi perayaan keagamaan umat Kristiani saja. Walaupun banyak umat agama lain yang menolak sekedar untuk merayakan bahkan untuk mengucapkan selamat natal sekalipun, namun tampaknya lebih banyak lagi orang yang terlibat merayakannya. Merayakan yang dimaksud disini bukanlah dalam arti ikut beribadah di dalamnya, tetapi dalam artian umum sekedar pesta dan bersenang-senang pada hari libur. Berkaitan dengan hal tersebut belum lama ini seluruh umat kristiani telah merayakan hari Natal dimana tepatnya tanggal 25 Desember 2018.

Belum lama ini kami berhasil mewawancarai salah seorang kepala sekolah di salah satu sekolah Kristen di Boyolali, Tri Hermani S.Pd. Lahir di Boyolali 25 Agustus 1959 seorang Kepala Sekolah SMP Katholik di Boyolali, ia sudah mengajar selama 36 tahun dan 1 tahun kedepan sudah pensiun. Ia sempat menjadi guru Wiyata selama 4 tahun lalu kemudian diangkat sebagai PNS. Menjabat kepala sekolah sudah hampir 3 periode. Sekolah yang didirikan sejak tahun 1959 ini terdapat 13 guru diantaranya 1 PNS, 3 GTY(Guru Tetap Yayasan), dan 9 lainnya belum tetap. Wanita dari 6 bersaudara ini mempunyai 2 orang anak, anak petama alumni Ekonomi Manajement UNS dan yang kedua Kedokteran UGM. Mengenai pendidikan, beliau menempuh pendidikan Sekolah Dasar(SD) di SD Negeri 9 Boyolali, kemudian di SMP Katholik, dan SMEA(1979). Kemudian melanjutkan pendidikan D1 olahraga, lalu melanjutkan S1 PPKN.

Ketika natal tiba sekolah meliburkan siswa siswinya dan di perkenankan untuk beribadah di gereja masing-masing secara kebersamaan serta untuk merayakan tahun baru setelah satu minggu perayaan natal. Beliau merasa senang saat natal tiba karena kelahiran Tuhan Yesus hadir didalam hati, beliau percaya dan yakin Tuhan Yesus selalu menyertai hidupnya. Biasanya beliau menyiapkan 3 hari sebelum perayaan natal itu tiba seperti makanan-makanan kecil.

Beliau mengemukakan bahwa natal adalah waktu untuk berkumpul bersama keluarga, biasanya berupa jamuan makan bersama secara sederhana tetapi penuh keakraban antar umat beragama.  Menurut beliau jamuan makan juga memiliki makna keikhlasan,  beliau juga sering open house(menerima tamu) saat perayaan natal.  Tri memiliki suami yang bernama Sutarjo.  Walaupun beliau memiliki perbedaan agama dengan suaminya namun beliau tetap menghormati dan ikut serta merayakan setiap perayaan umat beragama. Beliau juga menuturkan bahwa agama bukanlah suatu perbedaan. Beliau kembali menegaskan makna natal adalah bahwa kelahiran Tuhan Yesus di dunia yang mempunyai tujuan atau visi menyelamatkan umat manusia.(dianika/ristya/r)

Related posts