Pendidikan Karakter Penentu Akhlaq Anak Bangsa

 

Siti Djamilatun, S.Pd, perempuan kelahiran di Boyolali pada 19 Januari 1976 ini dipersunting oleh Drs. Mulyadi Joyo Martono atau kerap di sapa JM yang sekarang telah menjadi Kepala SMA N 1 Banyudono ini memiliki 3 orang putra. Ia tinggal  di Tlogo, Madu, Mojosongo, Boyolali bersama dengan keluarga kecilnya, putra yang pertama bernama Rafii Al Azis Joyo Martono kelas 5 di Sekolah Dasar Muhamammadiyah PK Boyolali, putra keduanya bernama Naafi Alfirdaus Joyo Martono kelas 3 di Sekolah Dasar Muhammadiyah PK Boyolali, putranya yang ketiga bernama Briliant al Furqon Joyo Martono TK A di Al Khoir Boyolali. Meskipun kini telah memiliki 3 orang buah hati tidak menyurutkan niatnya untuk meneruskan ke perguruan tinggi di luar Boyolali, terbukti bahwa ia telah menempuh study Ilmu Fisika  di Universitas Sebelas Maret  dan lulus tahun 2000.

Mila merupakan putri dari pasangan Nasabi dan Fatimah menegaskan makna pendidikan berkarakter, yang berarti pendidikan berkarakter adalah ciri khas manusia dalam berbangsa, pertama adalah pendidikan karakter dalam bidang agama atau religius yang diwujudkan dengan mengawali dan mengakhiri kegiatan dengan doa, pendidikan karakter yang kedua adalah pendidikan karakter dalam bidang budaya yang diwujudkan dengan kebiasaan guru yang memberikan contoh kepada muridnya agar tepat waktu atau disiplin, membuang sampah pada tempatnya, mencintai lingkungan, membersihkan kelas, dan mandiri, serta masih banyak bidang lagi.

Ia merasa pendidikan karakter itu sangat penting, bahwasanya kesuksesan orang itu tidak hanya di tentukan oleh IQ saja tetapi bisa juga di tentukan dari EQ. Di jaman yang serba teknologi ini banyak generasi muda yang sudah meninggalkan karakteristik bangsa, hal ini bisa disebabkan oleh lingkungan sekitar dan peran orang tua dalam medidik anak.

Pengalamannya saat mengajar sejak tahun 1999 sudah tidak dilakukan lagi, beliau pernah mengajar di beberapa daerah, pertama Mila mulai mengajar pada bulan Oktober tahun 1999 sampai dengan Desember 2004 di SMA N 1 Boyolali. Selanjutnya tahun 2000 sampai dengan 2001 merangkap mengajar di SMA N 3 Surakarta, kemudian pada tahun 2001 sampai dengan 2002 merangkap mengajar di STM Penerbangan Colomadu Karanganyar, masih di colomadu Mila berpindah tempat mengajar pada tahun 2002 sampai dengan 2003 merangkap mengajar di STM YP Colomadu, lalu pada bulan januari tahun 2005 diangkat menjadi PNS di SMA N 1 Simo Boyolali dan kemudian di pindah pada bulan Juli 2007 menjadi guru di SMK N 1 Boyolali hingga saat ini.

Di lihat dari pengalaman Mila selama 19 tahun mengajar ini, dapat di simpulkan bahwa perubahan karakteristik bangsa yang mencolok adalah disiplin dan sopan santun yang mulai menghilang, berbeda dengan dulu, sekarang siswa jarang sekali mengapa gurunya ketika berpapasan. Dirasanya budaya saling menghormati ini mulai luntur dan egoisme terlihat sekali. Pendapat orang memang berbeda-beda, kekecewaan Mila dapat dinetralisir oleh kelebihan generasi muda di bidang IT, tetapi Mila yang berperan sebagai pendidik ia tetap berupaya untuk mengajarkan tanggung jawab dan sopan santun. Mila juga merasa berhasil dengan meletakkan nilai-nilai kehidupan bangsa kepada ketiga putranya terbukti semua sudah mandiri seperti yang Mila harapkan, putranya juga tidak kalah hebat dengan generasi muda lain, mereka semua bisa mengoperasikan gadget secara otodidak tetapi masih dalam pengawasan orang tua,dan Mila merasa bangga atas apa yang dilakukan anaknya.

Menurutnya, orang yang berperan penting dalam melekatkan karakteristik bangsa dalam diri generasi muda adalah orang tua, jika orang tua tidak berhasil pihak sekolah yang akan melekatkan karakteristik bangsa yang mulai luntur.Mila mengatakan bahwa ekstra kurikuler atau organisasi di sekolah ikut memerangi lunturnya karakteristik bangsa, karena Mila merasakan perbedaanya. Mila melakukan pendekatan secara personal agar guru dapat membantu siswa untuk menatap masa depan yang lebih cerah, karena ia merasa murid-muridnya adalah sahabatnya sendiri. Harapan Mila untuk generasi yang akan datang adalah supaya anak nantinya bisa lebih berkarakter, saling menghargai, saling menghormati, dan negara kita tidak menjadi bangsa dengan overdosis hoax. (Deni/Insan/r)

Related posts