Gedung Mewah Belum Menjamin Kualitas Sekolah

Agung Wijayanto S. Pd. M. Pd

Kepala  SMA Negeri 6 Surakarta,

Sebentar lagi tahun ajaran baru akan tuntas dan dilanjutkan pembukaan pendaftaran sekolah baru bagi siswa yang lulus sekolah. Entah lulus Taman Kanak-kanak (TK) akan masuk Sekolah Dasar(SD), lulus Sekolah Dasar (SD) akan masuk ke Sekolah Menengah Pertama(SMP), lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) mau meneruskan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan(SMA/K) dan lain sebagainya. Banyak pertimbangan yang akan diambil oleh orang tua ketika memilih sekolah anak-anaknya. Dari orde lama hingga sekarang ini orang tua pasti akan memilih sekolah yang berkualitas untuk anaknya. Orang tua akan mempertimbangkan sekolah yang dipilih antara sekolah yang bergedung mewah atau sekolah yang berkualitas.

Beda halnya dengan yang diutarakan oleh Agung Wijayanto S. Pd. M. Pd ini selaku kepala sekolah SMA Negeri 6 Surakarta, beliau menuturkan pendapat beliau tentang sekolah gedung mewah atau sekolah berkualitas, pemerintah mengeluarkan zonasi mutu jadi orang tua tidak perlu berfikir untuk memilih sekolah bergedung mewah atau sekolah favorit namun orang tua akan memikirkan sekolah yang terdekat dengan jangkaun tempat tinggalnya atau zonasi mutu karena akan menghemat dalam hal ekonomi. Dengan sistem zonasi ini pula terbukti menekan sekitar 30% kemacetan di jalan raya, bila penerapan zonasi ini terus berlanjut tidak menutup kemungkinan akan mengurangi kemacetan hingga 100 %. Lelaki yang kerap disapa Agung ini berharap agar kedepannya semua sekolah akan menjadi sekolah yang berkualitas tinggi dan tidak hanya mengandalkan gedung yang mewah.

Lelaki kelahiran Wonogiri, 13 Juli 1971 ini memiliki pengalaman bekerja selama 20 tahun lebih. Jarak tidak memutuskan semangat beliau dalam menjalankan dinasnya. Ini merupakan tahun keempat beliau menjabat sebagai kepala sekolah di SMA Negeri 6 Surakarta. Anak dari Alm. Sunaryo dan Sukarni ini selalu mengupayakan agar sekolah yang ia pimpin tetap menjadi sekolah  bermutu,c aranya sekolah tersebut harus mampu memenuhi delapan standar nasional dan menjadi sekolah yang smart school yaitu sekolah yang menggunakan aplikasi yang sesuai dengan perkembangan jaman agar mudah dalam mengaksesnya.

Ia menekankan bahwa ada beberapa indikator yang membedakan antara sekolah bergedung mewah dan sekolah berkualitas yakni output dari pencapaian hasil ujian nasional dan seberapa besar lulusan tersebut terserap ke perguruan tinggi yang baik dan bergengsi. Rangking ujian nasional tidak bisa dibandingkan namun dijadikan pemetaan capaian standar apakah sekolah ini sudah memenuhi kriteria nilai atau tidaknya peningkatan nilai setiap tahunnya. Rangking tidak masuk dalam kriteria orang yang sukses. Anak kelima dari lima bersaudara itu menerapkan metode untuk meningkatkan mutu sekolah dengan mengupayakan etos kerja yang tinggi, kreatif, upaya pencapaian SNP(standar nasional pendidikan), menggandeng lembaga yang lain, dan meningkatkan pengembangan diri guru .

Dengan pengalaman yang ia dapat terbukti SMA Negeri 6 Surakarta banyak memperoleh prestasi baik dibidang akademik maupun non akademik, dan banyak karya yang dihasilkan oleh siswa. Untuk menjadikan sekolah bermutu maka diperlukan karakter yang berjiwa religius, nasionalis, integritas, kemandirian, dan gotong royong. Banyak lulusan dari SMA Negeri 6 Surakarta yang menjadi pengusaha ataupun tokoh politik terkenal sebagai contoh Ir.H Joko Widodo ia menjadi lulusan pertama disana. Program kerja yang diarahkan kepada para guru dengan mengadakan evaluasi dan monitoring kepada siswa. Yang mendasari mutu suatu sekolah adalah sarana prasarana, mutu pendidikan dan kurikulum yang diterapkan. Strategi pemerintah dengan mengganti kurikulum bertujuan untuk menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Ia berharap dalam pembelajaran siswa mampu menganalisis, mengevaluasi, atau bahkan bisa menciptakan berbagai karya dengan menyediakan wadah berupa ekstrakurikuler.

Banyak kesulitan yang ia hadapi selama menjadi kepala sekolah namun, kerja sama dan bagaimana cara menyikapi kesulitan tersebut solusinya. Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan(SMPP) merupakan nama awal sebelum diganti dengan nama SMA Negeri 6 Surakarta. Sekolah tersebut tidak sesuai dengan suasana perkotaan solo itu alasan mengapa namanya diganti. Dan sekarang memiliki paket keahlian IPA, IPS dan Bahasa. Program khusus berupa kelas digital dibuat untuk semua proses pembelajaran berbasis IT contoh media yang digunakan Edmodo, namun guru yang gagap teknologi menjadi kendalanya. Dengan proses pembelajaran ini siswa akan fokus pada pembelajaran dan akan mengurangi waktu untuk  mengakses hal-hal yang negatif. Mewujudkan manusia yang berakhlak mulia, berilmu, berwawasan lingkungan dan berdaya saing global merupakan visi dari SMA Negeri 6 Surakarta. Ia juga menuturkan bahwa menghasilkan SDM yang berkualitas, dengan memberi kesempatan siswa untuk mengesplor kemampuannya dan daya tangkap berbeda agar siswa mampu bersaing dengan dunia luar. Peraturan akademik dan non akademik juga dibuat untuk ditaati semua warga sekolah, namun tak jarang dalam hal kedisiplinan biasanya siswa sering melanggar. Generasi muda menurutnya ialah penerus bangsa yang mengisi kekosongan bangsa kedepannya. Pendidikan harus disesuaikan dengan lingkungan, tidak boleh menyamakan sistem pendidikan dengan negara Finlandia karena memiliki SDM yang berbeda. Memanfaatkan fasilitas secara secara optimal untuk meningkatkan mutu. (Ira/Niya/r)

Related posts