Pembelajaran Ramah Anak – Hendro Susilo

IMG20170125122857

Oleh : Hendro Susilo

Kepsek SMA Muhammadiyah Program Khusus

Kottabarat Surakarta

Isu-isu terkait anak menarik untuk dicermati dalam dunia pendidikan. Problematika terkait  perlindungan anak masih menjadi isu dan penuh tantangan dalam penyelesaiannya.Adanya fakta literasi digital masyarakat yang masih lemah, komitmen masyarakat dalam perlindungan anak yang belum optimal dan radikalisme masih menghantui perkembangan anak-anak kedepan.

Bahkan, di salah satu media nasional mensarikan kajian dampak media sosial bagi anak dan remaja bersumber dari Puskakom UI, bahwasannya bermedia sosial bagi anak dan remaja mengandung kerawanan. Badan Pusat Statistik (2010) melaporkan sekitar 80 juta anak telah mengakses pornografi daring, KPAI (2011-2014) mencatat terdapat laporan 932 kasus pornografi dan kejahatannya yang menjadikan anak sebagai target utamanya, Kemkominfo bersama unicef (2014) melaporkan anak-anak dan remaja berbohong mengenai usia mereka untuk mendapat akses situs internet, bahkan Sejiwa foundation- pun melaporkan 2 dari 10 anak Indonesia yang mengakses media sosial mengalami perundungan.

Sederet rilis dan laporan riset lembaga-lembaga di atas patut menjadi cerminan. Langkah strategis seluruh elemen masyarakat untuk peningkatan kualitas generasi bangsa perlu dilakukan. Salah satu hal strategis yang dilakukan tentu melalui bidang pendidikan. Layanan pendidikan yang baik dan berkualitas, saat ini menjadi kebutuhan anak-anak.  Layanan pendidikan yang mencerahkan, yang melejitkan potensi serta mencerdaskan,bukan pendidikan doktrinasi maupun dogmatis. Layanan pendidikan yang baik, akan menjadi jalan terang pemecah problematika diatas.

Strategi  Proses Pembelajaran

Lingkungan belajar yang baik perlu diciptakan oleh setiap lembaga pendidikan. Lingkungan yang mampu memberikan sentuhan kemajuan dimensi fisik, akal dan hati, akan melahirkan manusia yang memiliki semangat kemanusiaan.Alasan inilah yang menguatkan, betapa penting strategi men-desain proses pembelajaran holistik dan ramah untuk anak-anak.

Praktik pembelajaran pendidikan holistik memiliki prinsip bahwa proses pembelajaran harus diorganisir dengan titik pusat lingkungan kehidupan anak itu sendiri.Proses pembelajaran tidak berlangsung dalam ruang dan kondisi vakum, melainkan berproses dalam suatu lingkungan sosial.Dari lingkungan sosial inilah, anak akan mengembangkan kemampuan memberikan makna bersama yang akan  menciptakan kehidupan harmonis.

Ruang kelas harus menjadi laboratorium kehidupan bagi siswa. Guru harus membawa “isu-isu kehidupan” di masyarakat masuk ke ruang kelas dalam materi ajar nya. Harapannya, potensi multidimensi siswa akan terasah. Dimensi intelektual, emosional, sosial, fisik, estetika, dan spiritual harus berkembang dalam diri siswa. Jika semua dimensi itu tercapai, maka semangat kemanusiaan untuk menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain akan terwujud.

Realitas “ganas” nya pergulatan di dunia media sosial, radikalisme yang mengancam “sistem paham” anak (siswa) bisa ditangkal dengan model pendidikan dan pembelajaran yang humanis, ramah dengan berbasis kasih sayang.Guru harus men-desain apa yang disebut the epistemic apprenticeship di ruang kelas nya. The epistemic apprenticeship yakni proses pembelajaran yang menjadikan ruang kelas sebagai realitas kehidupan di tempat mana para peserta didik mengembangkan kemampuan cara berfikir dan cara mengetahui.

Otot-otot pembelajaran

Ruang kelas harus dinamis,kelas jangan berfungsi sebagai auditorium dimana siswa hanya menjadi pendengar yang baik. Siswa harus aktif dalam hal berfikir, berimajinasi dan ikut memecahkan problem. Pembelajaran model “aktif” seperti ini akan berhasil di tangan guru yang cerdas, kreatif dan memahami psikologi perkembangan siswa. Guru adalah manusia pilihan yang harus memiliki kemampuan intelektual dan kasih sayang terhadap anak (siswa). Jadi proses KBM yang dijalankan pun berbasis keilmuan dan kasih sayang.

Claxton, 2008 (dalam buku nya Zamroni,Percikan Pemikiran Pendidikan Muhammadiyah) menyebutkan agar pembelajaran berhasil, maka guru harus mengembangkan apa yang disebut the learning muscleThe learning muscle (otot pembelajaran) harus dilatih, agar pembelajaran berhasil dan kuat. Otot pembelajaran tersebut antara lain rasa penasaran (curiosity), keberanian (courage), penyelidikan (investigation), percobaan (experimentation), imajinasi (imagination), pencarian alasan (reasoning), kemampuan sosial (sociability), refleksi (reflection), dan transformasi (transformation).

Metode yang dilakukan guru, harus menyentuh aspek fisik, otak, dan hati. Sebagai contoh ketika problem kehidupan digital (ujaran kebencian di medsos misalnya) masuk pada kehidupan anak, maka guru di ruang kelas bisa mengkaji fenomena tersebut. Siswa diajak menyelidiki,meneliti dampak negatif, kemudian merefleksikan dampak ujaran kebencian pada harmonisasi sosial sehingga pada akhirnya terdapat proses transformasi pada diri siswa. Siswa memahami dan memiliki kesadaran pada realitas problem di media sosial dan mampu menangkalnya.

Pemahaman dan kesadaran inilah yang harus dituju oleh guru agar proses pendidikan berhasil. Untuk itu, keteladanan,kasih sayang serta dialog bersama siswa (anak) di ruang-ruang kelas perlu dibudayakan. Harapannya, setiap anak (siswa) dapat tumbuh potensi multidimensi terkait fisik, hati, dan otak agar mereka bisa menjadi manusia bermanfaat bagi manusia lain. Fenomena kekerasan di dunia digital pada anak (seperti rilis lembaga diatas) kedepan bisa ditangkal dengan menyiapkan anak-anak menjadi generasi cerdas dan sehat fisik, hati, maupun akal melalui pembelajaran holistik di ruang kelas. Mari Selamatkan masa depan anak-anak kita.

Related posts