Sempat Berjualan Gorengan dan Nasi Bungkus, Kini Menjadi Guru

Hidup ini memang tidak semudah membalikan telapak tangan, perlu kerja keras untuk mewujudkan cita-cita dan harapan, tak luput juga doa sebagai pengiring langkah kemana kaki kita menapak. Aku Sugiyanti anak dari pasangan seorang petani yang mempunyai cita-cita tinggi. Aku tinggal di daerah Gunung Agung, Ronggojati, Batuwarno, Wonogiri, Jawa Tengah. Ayahku bernama Tumino,  hanyalah seorang lulusan SD begitu juga Ibuku yang bernama Marmi.

Bisa bersekolah sampai SMP  saja aku sudah sangat bersyukur apa lagi bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun harapanku untuk lanjut sekolah harus kukubur dalam-dalam karena kedua orang tuaku hanya mampu menyekolahkanku sampai jenjang SMP saja. Akupun tak berani untuk meminta lanjut sekolah karena biayanya yang mahal, untuk itu aku harus berusaha sendiri agar bisa bersekolah lagi. Aku memberanikan diri datang kerumah Tanteku yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalku. Untuk sampai dirumah Tanteku aku harus berangkat pagi-pagi sekali selain agar cepat sampai dan aku juga tidak ingin kedua orangtuaku tahu jika aku pergi. Aku melewati jalan setapak dan gunung yang berkelok-kelok. Sesampainya disana aku menceritakan semua masalahku kepada Tante ,aku meminta agar dicarikan pekerjaan yang sekaligus bisa menyekolahkanku walaupun tanpa dibayar tak apa. Selang satu minggu aku pun mendapat pekerjaan aku sangat bahagia sekali karena majikanku orang yang baik, pekerjaanku setiap harinya adalah mengurusi pekerjaan rumah tangga dan mengantar sekolah anak bungsu majikanku. Aku harus menunggu 2 tahun untuk bisa bersekolah, aku sangat gembira karena setiap 6 bulan sekali aku pulang ke kampung untuk memberitakan kabar baik ini kepada orang tuaku, tapi sayangnya kedua orang tuaku tak menyetui jika aku kembali bersekolah, alasannya karena aku sudah terlalu tua dan sudah saatnya untuk menikah. Tapi aku tidak ingin menikah dulu hingga akhirnya aku bisa sekolah walaupun disekolah aku sangat berbeda dengan siswa yang lain tapi guru-guru ku sangat baik padaku. Setiap bulannya majikanku memberikanku uang untuk biaya sekolah dan naik minibus pulang dan pergi sebesar Rp. 100.000,- untuk itu aku jarang jajan dikantin dan jarang naik minibus karena takut uangnya  tidak cukup. Aku berangkat sekolah pagi-pagi buta dari daerah Kerten sampai Sumber, tidak jarang aku kerap terlambat dan sering dipanggil guru. Itu sudah menjadi bagian keseharianku, aku sering pingsan disekolah karena kelelahan bekerja dan melaju dari rumah kesekolah berjalan kaki. Teman-temanku menyarankanku untuk tinggal di rumah kos  tetapi aku tidak punya biaya. Aku berusaha menahan kondisiku  dengan memanfaatkan waktu istirahat sekolah untuk tidur. Saat akan naik kelas 3 kondisiku semakin melemah hingga akhirnya aku memutukan untuk pulang ke orang tuaku dan ingin berhenti sekolah saja tapi ibuku berubah fikiran dan ingin aku melanjatkan sekolahku yang hanya sisa 1 tahun ini dengan menjual ternak milik kakek. Disekolah aku berjualan gorengan dan nasi bungkus untuk biaya kos dan makan sehati-hari. Setelah lulus aku bekerja di pabrik roti dan tetap tinggal di rumah kos. Pekerjaanku itu hanya cukup untuk makan sehari-hari saja, lalu aku pindah kerja di supermarket. Karena usiaku sudah 23 tahun ayah menyuruhku untuk menikah akhirnya  tahun 2009 akupun menikah dengan teman SMK dulu yang bernama Suparno dan aku dikarunia seorang putri yang aku beri nama Mutia. Pada tahun 2010 aku diangkat jadi seorang pendidik di Kelompok Bermain(KB) Jambewangi, Ronggojati, Batuwarno, Wonogiri. Aku harus membuktikan bahwa aku berguna bagi orang lain terutama lingkungan sekitarku. Saat itu gajiku masih sangat sedikit tapi  aku tidak masalah bila harus mengeluarkan uang pribadiku untuk kegiatan workshop dan pelatihan walaupun untuk baiya sehari-hari saja masih kurang, tapi aku tetap mengusahakan agar bisa mencukupinya. Aku melanjutkan kuliah dengan restu dan dukungan suami, aku semakin berusaha keras tidak apa kalo aku harus berjalan kaki menmpuh jarak yang jauh  dan berkerja lebih keras lagi, tidak lupa juga pekerjaan rumah harus wajib selesai dengan baik alhamdulilah dengan usaha kerja keras ku aku akhirnya bisa kuliah di UT (Universitas Terbuka) seperti yang aku harapkan. Aku bisa membuktikan bahwa anak seorang petani mampu berkuliah dan menjadi pengajar yang baik dan berguna. karena yang terpenting bagiku adalah mencerdaskan masyarakat di daerah dusun ku agar dapat mengikuti perkembangan jaman. Semoga dengan jerih payahku ini berbuah hasil yang baik, dan Tuhan memberikan jalan untukku agar bisa mencerdaskan anak-anak dari kalangan yang kurang mampu untuk bisa mendapatkan pendidikan yang layak. (*red)

Related posts