INTERNATIONAL MASK FESTIFAL 2018 WONDERFULL MASK INDONESIA

Kebudayaan adi luhung dari hasil olah rasa, karsa dan cipta peradaban nusantara dalam menemukan makna dan nilai kehidupan melalui salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan yaitu topeng. Imajinasi manusia dalam merepresentasikan alam atau roh-roh leluhur dalam tradisi kehidupan masyarakat nusantara, yaitu penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur demi mengumpulkan dan menyimpan nilai luhur kebijaksanaan tentang kearifan luhur yang kemudian membentuk karakter bangsa indonesia.

Bagi sebagian masyarakat dunia, topeng juga memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan. tidak hanya karena keindahan estetisnya, melainkan bentuk mimetik dari ekspresi kesenian yang mengiringinya merupakan simbol-simbol khusus dalam berbagai upacara dan kegiatan adat yang luhur, sehingga kegiatan ini dapat melatih jiwa, kepekaan dan kesadaran manusia. Warisan agung inilah merupakan upaya masyarakat nusantara untuk menyelaraskan alam, menghindari kekacauan untuk mencapai harmoni, yang dipercaya guna mencapai kesejahteraan, keamanan, keselamatan, dan ketentraman.

Dengan semangat indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan yang agung, maka International Mask Festival (IMF) di tahun ke lima ini yang jatuh pada hari Jum’at dan Sabtu tanggal 26 dan 27 Oktober 2018, yang pastinya juga melibatkan masyarakat seni topeng mancanegara, kembali hadir di Kota Solo, Jawa tengah. Delegasi IMF 2018 dari dalam negeri yaitu Bambang Besur & Semarak Candra Kirana – Solo, Dinas Kebudayaan & Pariwisata Banjarmasin – Kalimat Selatan, Lelana Group – Bandung, Sanggar Ayu Bulan – Jakarta, Dinas kebersihan & Pariwisata kab. Trenggiling – Jawa timur, Sendratasik FBS Surabaya, Sanggar Tari Pandu – Pati. Lalu dari luar negeri dimeriahkan oleh Four Season Dance Grup dan Nelson Sousa dari Timor Leste. Festival pertunjukan tari topeng berskala internasional kali ini menggelar seni pertunjukan untuk mempersatukan keberagaman topeng dari suku bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke sebagai cara untuk menggali kekayaan seni topeng di Indonesia dalam menggali kekuatan kebersamaan dalam kebhinekaan.

Karena topeng memiliki nilai heritage tinggi, maka agar bersinergi dengan makna dan spirit yang diusungnya, International Mask Festival (IMF) 2018 akan digelar di Pendopo Prangwedanan Istana Mangkunegaran Surakarta. Pendopo yang berdiri dengan ukuran 3.500 meter persegi, sehingga dapat menampung lima sampai sepuluh ribu orang. Selama bertahun-tahun pendopo ini dianggap sebagai pendopo yang terbesar di Indonesia. Tiang-tiang kayu yang berbentuk persegi yang menyangga atap joglo tanpa menggunakan paku, diambil dari pepohonan yang tumbuh di Alas Kethu, hutan milik Mangkunegaran dahulu kala di perbukitan Wonogiri. Warna kuning dan hijau yang mendominasi pendopo adalah warna Pari Anom yang merupakan warna khas keluarga Mangkunegaran. Hiasan langit-langit pendopo yang berwarna kuning terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa dan dihiasi dengan deretan lampu gantung antik. Kegiatan kesenian di pendopo yang sering melibatkan seni gerak tubuh dalam tari dan seni oleh nada dalam gamelan sebagai unsur pendukungnya, maka di dalam pendopo terdapat gamelan-gamelan pusaka, antara lain gamelan Kyai Seton, gamelan Kyai Kanyut Mesem, dan gamelan Lipur Sari, yang masing-masing hanya dimainkan pada saat-saat tertentu.

Acara yang pada awalnya digagas oleh Ibu Dra. Irawati kusumorasri, M. Sn. Pada tahun 2014, diselenggrakan oleh Solo International Performing Art Community (SIPA Community) dan Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA) serta mendapat dukungan dari Kementrian Pariwisata, kali ini kembali hadir di Kota Solo yang akan diselenggrakan di Pendapa Prangwedanan Istana Mangkunegaran Surakarta selama 2 hari. Rangkaian acaranya meliputi seminar tentang topeng, workshop pembuatan topeng, dan penampilan pertunjukan seni yang secara khusus mengangkat topeng sebagai ikon utama di panggung. Tidak hanya di Solo, penyelenggaraan International Mask Festival (IMF)  2018 kali ini juga bersinergi dengan beberapa kota lainnya di Indonesia seperti, Museum Ullen Sentalu Yogyakarta, Museum Panji Malang dan Museum Arma Ubud Bali pada tahun 2018 ini. International Mask Festival (IMF) 2018 kali ini juga menyelenggarakan pameran tentang benda-benda seni topeng dari masyarakat lintas budaya, disertai dengan program perawatan 5 topeng koleksi istana Mangkunegaran, dan beberapa milik peserta pameran topeng, diantaranya, topeng karya Basnendar, karya dari Museum Topeng Surabaya oleh Wisnu, Topeng Tari Mina Tani dari Sanggar Tapi Pandu Pati, dan yang terakhir milik Irawati Kusumorasri, M. Sn. Sebelumnya juga telah terlaksana acara pre-event International Mask Festival (IMF)  2018 di Monumen 45 Taman Banjarsari Surakarta, bertepatan pada senin, 15 Oktober 2018 yang diadakan oleh Basnendar ISI Surakarta yang bekerjasama dengan Komunikota Visual dan Yayasan Lazuardi Kamila dengan peserta 200 siswa sekolah dasar yang berpartisipasi menggambar 1001 topeng kertas Nusantara.

Melalui media topeng, tujuan diselenggarakannya cara ini yaitu tersampaikannya makna spirit ekspresi dan imajinasi “Wonderful Mask Indonesia” dan semangat  harapan akan kebersamaan dalam keberagaman Indonesia.(red)

Related posts