Strategi Pembelajaran Siswa Berkebutuhan Khusus (Tuna Netra) di Jurusan Musik SMK Negeri 8 Surakarta

Dari segi bahasa kata tunanetra terdiri dari kata tuna dan netra. Dalam kamus lengkap Bahasa
Indonesia kata tuna berarti tidak memiliki, tidakpunya, luka atau rusak. Sedangkan kata netra
berarti penglihatan. Dengan demikian tunanetra berarti buta, tetapi buta belum tentu sama
sekali gelap atau sama sekali tidak dapat melihat. Dalam literatur bahasa inggris istilah tunanetra
juga disebut dengan“Visual Impairment (Kerusakan Penglihatan)” atau“Sight Loss (Kehilangan
Penglihatan)”. (dalam Humairo:2013)

Dari kutipan Supena, M.Psi (dalam Humairo:2013) mengatakan bahwa tunanetra (Visual Imprairment) adalah “mereka yang mengalami gangguanhambatan penglihatan secara signifi kan (berarti). Sehingga membutuhkan layanan pendidikan atau pembelajaran yang khusus” Contohnya penggunaan sistem baca tulis braille, alat pembesar bahan bacaan dan bentuk modifi kasi lainnya.
Menurut somantri (2012:65) Anak tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran informasi dalam kegiatan sehari-hari sepertti halnya orang awas. Anak-anak dengan gangguan penglihatan ini dapat diketahui dalam kondisi berikut:
1. Ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang awas.
2. Terjadi kekeruhan pada lensa mata atau terdapat cairan tertentu.
3. Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak
4. Terjadinya kerusakan susunan syaraf otak yang berhubungan dengan penglihatannya.
Karakteristik anak tunanetra menurut Somantri (2012: 66), yaitu: Dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya kurang dari 6/21. Artinya, berdasarkan tes, anak hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas dapat dibaca pada jarak 21 meter yang diukur dengan tes snellen card.
Berdasarkan acuan tersebut, anak tunanetra dikelompokan menjadi 2 macam, yaitu:
a. Buta jika anak tidak mampu menerima rangsangan cahaya dari luar (visusnya = 0).
b. Low vision jika anak masih mampu menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21,
atau jika anak hanya mampu membaca headline pada suarat kabar.
Jadi dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tunanetra yaitu orang yang kehilangan penglihatan sedemikian rupa, sehingga seseorang itu sukar atau tidak mungkin dapat mengikuti pendidikan dengan metode yang biasanya dipergunakan disekolah biasa.
Perkembangan sosial anak tunanetra dijelaskan Somantri (83-85), yaitu: Hambatan-hambatan muncul pada anak tunanetra sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari ketunanetraan, yaitu kurangnya motivasi, kekuatan menghadapi lingkungan sosial, perasaan rendah diri, malu, penolakan masyarakat, penghinaan, sikap tak acuh, ketidak jelasan tuntutan sosial, terbatasnya kesempatan belajar tentang pola tingkah laku yang diterima merupakan kecenderungan tunanetra yang dapat mengakibatkan perkembangan sosialnya menjadi terhambat.
Pembelajaran yang terbaik bagi siswa tunanetra (dalam Humairo:2013) adalah yang berpusat pada apa, bagaimana,dan di mana pembelajaran khusus yang sesuai dengan kebutuhannya itu tersedia.
Pembelajaran khusus yang sesuai dengan kebutuhan siswa adalah tentang apa yang diajarkan, prinsipprinsip
tentang metoda khusus yang ditawarkan dalam konteks bagaimana pembelajaran tersebut disediakan, dan yang terakhir adalah tempat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak dimana pembelajaran akan dilakukan. Dalam mengajar anak dengan kelainan penglihatan ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian secara
khusus yaitu :
Para ahli mengemukakan (dalam Humairo:2013), bahwa tunanetra mempunyai dua perangkat kebutuhan kurikulum: pertama adalah kurikulum yang diperuntukan bagi siswa pada umumnya, seperti: bahasa, Seni, matematika, dan IPS; kedua adalah yang dapat memenuhi kebutuhan khususnya sebagai akibat dari ketunanetraannya yaitu kurikulum inti yang diperluas, seperti: keterampilan kompensatoris, keterampilan interaksi sosial, dan keterampilan pendidikan karir.
Dengan kebutuhan belajar khusus bagi mereka. Guru umum biasanya lebih menekankan pembelajaran melalui saluran visual, yang sudah tentu tidak sesuai dengan tunanetra. Lowenfeld (dalam Humairo:2013) mengemukakan tiga prinsip metode khusus untuk membantu mengatasi keterbatasan akibat ketunanetraan:
a. Membutuhkan Pengalaman Nyata.
Guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempelajari lingkungannya melalui eksplorasi perabaan tentang situasi dan benda- benda yang ada di sekitarnya selain melalui indera-indera yang lainnya. Bagi
siswa yang masih mempunyai sisa penglihatan(lo vision), aktifi tas seperti itu merupakan tambahan dari
eksplorasi visual yang dilakukan. Kalau benda-benda nyata tidak tersedia, bisa dipergunakan model.
b. Membutuhkan Pengalaman
Menyatukan  Karena ketunanetraan menimbulkan keterbatasan kemampuan untuk melihat keseluruhan dari suatu benda atau kejadian, guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyatukan bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang utuh.
Mempegunakan pembelajaran gabungan, dimana siswa belajar menghubungkan antara mata pelajaran akademis dengan pengalaman kehidupan nyata, merupakan suatu cara yang bagus untuk memberikan pengalaman menyatukan.
c. Membutuhkan Belajar sambil Bekerja.
Guru hendaknya memberi kesempatan kepada siswa tunanetra untuk mempelajari suatu keterampilan dengan melakukan dan mempraktekan keterampilan tersebut. Banyak bidang yang terdapat dalam kurikulum inti yang diperluas, misalnya orientasi dan mobilitas, dapat diperlajari dengan mudah oleh tunanetra apabila mempergunakan pendekatan belajar sambil bekerja ini.
Konsep diri (pengetahuan, harapan dan penilaian) merupakan hal yang penting yang harus disadari penderita tunanetra sehingga penderita tunanetra dapat memandang dirinya lebih bermakna dan berharga, menutupi kekurangan dengan kelebihan yang akan membuatnya lebih bersyukur dan bisa membuktikan pada dunia luar jika dirinya juga bisa hidup mandiri seperti orang lain dengan kondisi fisik yang normal yang pada akhirnya akan membentuk perkembangan kepribadian yang positif pada diri penderita tunanetra

Related posts