Media Wayang Sosio Tingkatkan Hasil Belajar Siswa

Oleh: Agustaf Didit Maryos, S.Sos, M.Si
(Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Surakarta)
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa dalam
sistem pendidikan nasional terdapat pendidkan formal, nonformal dan informal. Sesuai dengan
pendapat, Ki Hadjar Dewantara mempunyai istilah Tri Pusat Pendidikan yang lebih sederhana,
mudah dicerna, sangat fi losofi s, bahwa pendidikan dan pengajaran berpusat pada tiga
lingkungan, yaitu pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan
di perguruan atau sekolahan. Dalam pendidikan dan pengajaran, wayang dapat dipergunakan
sebagai medium pembelajaran di ketiga ranah tersebut sekaligus.

Menurut Ki Hadjar Dewantara untuk mendidik perasaan, ada 2 hal yang harus dilalui, pertama pendidikan kehalusan hidup kebatinan yang dinamakan pendidikan moral dan yang kedua adalah pendidikan estetis,
yaitu pendidikan kesenian. Dengan pendidikan tersebut, anak-anak akan berkembang perasaaannya, yaitu perasaan religius, sosial, individuil, terhadap hidup kemanusiaan, termasuk pada dirinya sendiri. Perkembangan perasaan pada diri siswa didalam proses pemelajaran sangat diperlukan guna meningkatkan motivasi, keaktifan dan kreativitasis diri siswa dengan harapan mampu membangkitkan semangat untuk belajar memahami dan menguasai materi pembelajaran terutama pada matapelajaran sosiologi. Dalam upaya untuk membangkitkan semangat belajar siswa secara internal, guru dalam proses pembelajaran hendaknyaa mampu menerapkan berbagai model atau metode pembelajaran yang selalu berkembang mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.
Penerapan model pembelajaran yang baik diharapkan dapat membuat proses pembelajaran lebih menarik, efektif dan menyenangkan, siswa termotivasi sehingga akan tumbuh dan berkembang kreativitas dan keaktifannya. Guru hanya memberikan bimbingan, arahan, fasilitas lingkungan belajar, memupuk kerjasama dalam proses  kelompok, memberikan tantangan dan motivasi belajar, dan menilai kemajuan belajar siswa berdasar pola pertumbuhannya, bukan semata berdasar pengetahuannya saja melainkan daya kreasi, kreativitas dan keaktifan.
Melalui media pebelajaran yang diterapkan guru inilah haparan untuk memancu motivasi dan perkembangan siswa secara internal maupaun ekternal. Pengertian media pembelajaran menurut Buvee dalam Hujair (2015:3) adalah sebuah alat yang berfungsi dan dapat digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Bentuk-bentuk stimulus yang dapat dipergunakan sebagai media, diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia,
realitas, gambar bergerak atau tidak, tulisan, dan suara yang direkam. Media yang digunakan dalam tindakan kelas ini berupa media wayang. Sedangakan dalam pembelajaran ini menggunakan media wayang sosio atau sering disebut MWS, menurut penulis adalah media wayang kontemporer yang terbuat dari kardus atau karton yang menyerupai tokoh-tokoh yang ada dalam masyarakat, seperti tokoh presiden, tokoh masyarakat, tokoh artis, dan tokoh lainnya, yang digunakan dalam pembelajaran sosiologi. Konsep pembelajaran ini membantu siswa mengaitkan materi pembelajaran dengan presentasi wayang sehingga mendorong siswa untuk aktif dan
mudah memahami dalam proses pembelajaran. Hasil belajar menurut Hamalik (2017:159) adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam hal ini hasil belajar di dapat dari hasil ulangan harian pada setiap siklus tindakan.
Langkah-langkah penerapan pembelajaran MWS yaitu pada awal kegiatan pembelajaran guru menjelaskan cara presentasi MWS, kemudian kelas dibagi ke dalam 5 kelompok siswa. Setelah itu guru membagikan materi kepada masing-masing kelompok agar membuat tokoh wayang, dialognya, latar belakang (background), dan musik latar sebagai backsound-nya dengan memakai LCD. Setiap kelompok yang mendapat giliran maju presentasi
mempersiapkan meja wayang, tokoh wayang, latar belakang dan musiknya. Waktu yang dibutuhkan setiap kelompok adalah 45 menit dan termasuk kegiatan tanya jawab kelompok.
Melalui penerapan media wayang sosio dalam pembelajaran materi Ragam Gejala Sosial diperoleh skor perbandingan sebelum penerapan dan setelah penerapan. seperti pada tabel berikut


Berdasarkan skor pada tabel tersebut diatas, dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa materi Ragam Gejala Sosial pada kondisi sebelum penerapan MWS dengan nilai terendah 58, nilai tertinggi 94, nilai rata-rata kelas 75,64 dan
rentang nilai sebesar 36. Dan kondisi awal setelah penerapan MWS sudah mengalami peningkatan dengan nilai terendah 66, nilai tertinggi 96, nilai rata-rata kelas 81,73 dan rentang nilai sebesar 30.
Peningkatan tersebut terjadi secara berangsurangsur yang dapat ditunjukan pada tabel skor penerapan akhir dari pembelajaran yaitu dengan nilai terendah 82, nilai tertinggi 98, nilai ratarata kelas 89,14 dan rentang nilai sebesar 16. Jadi hasil belajar yang didapat dari nilai hasil ulangan harian pada setiap pelaksanaan pembelajaran selalu mengalami peningkatan. Peningkatan hasil pembelajaran diikuti dengan ketuntasan pembelajaran yang tertuang dalam KKM (kriteria ketuntasan minimal) yaitu nilai ketuntasan mapel Sosiologi kelas X adalah 75 dengan jumlah siswa sebanyak 34. Berdasarkan uraian dan data tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui penerapan media wayang sosio dalam pembelajaran materi Ragam Gejala Sosial, secara positif mampu mendongkrak hasil belajaran siswa terbukti siswa termotivasi, kreatif, dan aktivtas lebih meningkat dari sebelum penerapan pembelajaran MWS dengan setelah penerapan media pembelajaran MWS yaitu dengan hasil sebelum penerapan sebesar 17 siswa belum tuntas atau 50% , dan setelah penerapan berangsur meningkat yaitu sebanyak 29 siswa atau 85,3% dinyatakan sudah tuntas dan pada akhir penerapan seluruh siswa telah tuntas yaitu sebanyak 34 siswa atau 100%. (*)

Related posts