Fajar Prihattanto Kritik, Hinaan sebagai Lecutan, Amunisi, Evaluasi Perbaikan Karya Selanjutnya

Fajar Prihattanto, S.Pd. adalah seorang guru Seni Budaya (Seni Rupa) di SMP Negeri 2 Paranggupito dan SMP Negeri 1 Baturetno. Guru kelahiran desa Batuwarno, Kabupaten Wonogiri, 13 Oktober 1983 ini awalnya menekuni dunia seni lukis. Tahun 1999 melanjutkan ke SMK Negeri 9 Surakarta atau yang lebih dikenal dengan nama Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Saat ini di sela-sela tugas utamanya sebagai guru, ia masih berkarya lukis, musik, video, dan film. Salah satu hal yang hampir tidak pernah lepas dari Fajar Prihattanto adalah totalitas dalam berkarya meskipun keterbatasan senantiasa ia temui, khususnya keterbatasan biaya, kemampuan, dan media. Ia selalu menjadikan semua halangan, kritik, hinaan sebagai lecutan, amunisi, evaluasi perbaikan karya selanjutnya.
Ratusan lebih karya seni lukis pernah ia ciptakan baik yang pesanan maupun karya idealis (bukan pesanan). Beberapa kali karya-karyanya pernah dipamerkan di Surakarta dan sekitarnya. Bidang seni rupa tidak cukup memuaskan dahaganya untuk berkarya di dunia seni. Seni musik pernah ia tekuni dari sekedar membuat band, membawakan lagu-lagu Iwan Fals, musik ber-genre rock, pop, alternative, dangdut, reggae, hingga merekam 20-an lagu karya sendiri. Lagu yang pernah direkam baik bersama grup musik ataupun secara mandiri ber-genre rock, pop, reggae, dan pop keroncong. Salah satu karyanya berjudul 20 03 (Invation to Irak) pernah lolos ke dalam 50 besar sebuah Festival Musik Independent.

Seni rupa dan seni musik rupanya belum cukup untuk membuatnya berhenti melangkah di jalur seni. Tahun 2008 seni audio visual mulai ia tekuni, sehingga berhasil membuahkan puluhan karya video. 80-an video karyanya dapat dinikmati di Youtube melalui akun Kantata Ilmu. Tahun 2011 film pertamanya lahir, sampai dengan tahun 2018 bulan Agustus telah tercipta 17 film. Tema dan genre yang diangkat awalnya seputar masalah remaja, humor, dan action, film berikutnya mengangkat tema pendidikan, nasionalisme dan sosial. Film berjudul Abang lan Putih pernah menjadi juara harapan 2 pada perhelatan Festival Video Edukatif tingkat nasional. Film berjudul Urip iku Urup berhasil menyabet juara 2 pada Festival Tingkat Nasional bertema penghematan energi yang diselenggarakan oleh UGM.
Pada bulan April 2018 bukunya berjudul “Urip iku Urup” terbit. BW Purbanegara dan Bowo Leksono, dua filmmaker yang pernah beberapa kali menjadi juara Film pendek Nasional-Internasional menuliskan testimoni pada buku tersebut. Buku ini sebagai langkah awalnya dalam menekuni dunia baru, yaitu menulis. Lebih tepatnya menulis secara lebih serius, karena sebelumnya banyak tulisan pernah dihasilkan melalui media blog, web sekolah, kompasiana, dan media lain. Kebetulan sejak kecil hobbynya adalah membaca, dan menjadi penulis merupakan salah satu cita-cita sejak lama selain cita-cita utamanya untuk menjadi seniman. Mungkin setelah seni lukis, musik, video, dan film, dunia berikutnya yang juga akan dia tekuni secara total adalah dunia kepenulisan buku.
Di bidang pendidikan, Fajar tertantang untuk mengikuti lomba guru berprestasi di bidang pembuatan bahan ajar mandiri berbasis ICT atau Multimedia Pembelajaran Interaktif (MPI) tingkat Provinsi Jawa Tengah. Awalnya ada keraguan, bahkan seorang juri berpendapat, bahwa eksplorasi mata pelajaran seni rupa yang berorientasi ke arah praktik lebih sulit untuk dibuat MPI dibandingkan dengan mata pelajaran Matematika, Fisika, Bahasa Inggris, dan pelajaran lain, Ternyata ia berhasil mengalahakan keterbatasan, pesimistis, dan keraguannya. Berturut-turut ia mendapatkan juara harapan I, juara III, dan juara II Tingkat Provinsi dalam ajang Guru Berprestasi di bidang pembuatan bahan ajar berbasis digital, semua hanya bermodal evaluasi terus menerus dan belajar dari sebanyak mungkin sumber.

Di bidang seni rupa selain aktif melukis dan membuat desain kaos, baliho, poster, pamflet, Fajar juga pernah mengikuti beberapa lomba. Tahun 2016 ia berhasil menjadi juara 1 Lomba Melukis antar Guru Tingkat Kabupaten, dan juara 2 Lomba Desain Batik Wonogiren Tingkat Kabupaten. Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi, Danar Rahmanto, Joko Sutopo, serta penyanyi Via Vallen pernah mengoleksi karya-karya lukisnya. Semua koleksi tersebut dia berikan sebagai kenang-kenangan yang ia atasnamakan pemuda desanya ketika mereka berkunjung ke Batuwarno.

Related posts