Berbagi Makna Hidup Dengan Musik

Sebagian orang menganggap hidup tanpa musik merupakan suatu yang hampa, bagai sayur tanpa garam. Musik telah menjadi bahasa yang universal bagi sebagian orang. Musik dapat menyatukan berbagai perbedaan yang ada di dunia. Salah satu orang yang berbagi makna kehidupan melalui musik adalah David Henry Sukoco.

Pria kelahiran 21 Juni 1972 ini memulai perkenalannya dengan musik ketika bergabung dengan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Brawijaya. Sarjana Adminitrasi Negara ini menghabiskan sekian waktunya setiap hari untuk mendengarkan musik dan megabdikan diri untuk mengajar sebagai guru paduan suara di SMA Kristen 1 Surakarta.  “Saya sangat mencintai musik, tanpa musik hidup saya terasa hambar,”ujar ayah dari Thea Pirena Sukoco ini.

Henry panggilan akrabnya mengatakan musik dapat menghapuskan perbedaan yanga da. Pria yang juga Financial Advisor Koperasi Sejahtera Bersama Solobaru ini mengatakan bermain musik selain dapat memuaskan hobinya, dirinya juga mengabdikan diri untuk gereja. “Dalam agama Kristen yang saya anut, musik dapat menjembatani hubungan antara iman seseorang dengan perasaan dan sikap hidupnya. “Setiap musik mempunyai tempat sendiri-sendiri, dan kesempatan untuk tiap musik dimainkan juga bebeda-beda, Oleh sebab itu seseorang yg berkecimpung dalam dunia musik gereja harus peka terhadap musik yg mereka pilih. Bukan hanya yg mereka senangi atau kenal saja, tetapi terutama kesempatan yg diberikan itu harus sesuai dengan musik yang mereka pilih,”jelasnya.

Henry mengatakan komposisinya, musik  dapat dipilih dari yang klassik sampai dengan yg modern, asal sesuai dengan suasananya. Dan harus diingat pagelaran musik gereja tidak boleh hanya menjadi sarana hiburan saja, tetapi harus membawa suasana beribadah yg mengingatkan manusia kepada kebesaran Allah sang Pencipta.

Hendry menambahkan melalui musik pada dasarnya setiap manusia memuaskan emosi yanga da dalam dirinya karena emosi tidak bisa diumbar begitu saja. Salah satu penyebab konflik di dalam rumah tangga adalah ketidakmampuan pasangan untuk mengelola emosi. Emosi sendiri merupakan pengalaman rasa yang nampak pada ekspresi gembira, sedih, marah, menangis. Emosi terkadang dibiarkan begitu saja tanpa terkendali, akibatnya bisa melukai pasangan maupun orang-orang di sekeliling kita. Sebaliknya, rumah tangga yang dibangun tanpa melibatkan emosi memang akan terlihat “baik-baik” saja, namun lambat laun akan kehilangan gairah untuk mengekspresikan cinta, mengenal lebih dalam suasana hati pasangan dan anak-anak. Demikian juga lagu ibadah hendaknya memiliki keseimbangan dua unsur ini, yaitu emosi dan rasio.

Dalam mengajkar sebuah lagu yang dipakai untuk dinyanyikan di dalam ibadah tidak hanya bersifat memuaskan hati dan telinga jemaat yang menekankan unsur emosi semata, namun juga memiliki fungsi untuk mengajar, mendidik, serta mendewasakan iman jemaat. Oleh sebab itu, kita harus melihat dan memaknai syair lagunya, apakah hanya berisi ungkapan emosi pribadi semata, atau memang mengandung teologi (refleksi iman) yang mendalam di dalam hubungannya dengan Allah Pencipta dan keadaan manusia sebagai ciptaan. Sangat membantu jika kita bisa memahami latar belakang zaman ketika lagu dibuat, serta keadaan pembuat lagu tersebut guna memahami makna sebuah lagu dengan tepat, terutama lagu-lagu yang dinyanyikan di dalam ibadah.

“Dalam Efesus 5:19 dan Kolose 3:16 diajarkan prinsip-prinsip kekristenan melalui musik. Musik gereja menjadi suatu alat yang memperlengkapi setiap orang yang dipilih Tuhan menjadi penginjil, pengajar, pemusik, pemimpin paduan suara untuk melayani pekerjaan-Nya. Musik dapat dipakai Tuhan untuk menyatakan kebenaran, dan sebagai sarana umat untuk menyampaikan ucapan syukur melalui nyanyian dan puji-pujian,”ujat Henry ketika ditanya mengenai musik dalam pelayanan gereja.

Lebih lanjut Henry menjelaskan dalam salah satu kitab yang paling banyak menyinggung tentang musik adalah Mazmur. Kitab ini ditulis oleh orang yang memiliki keterampilan bermusik dan kerohanian yang luar biasa. Daud menulis Mazmur 33:3, “ Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik (skillfully) dengan sorak-sorai!” Daud dipilih Tuhan karena ia seorang “yang pandai main kecapi”. Ia bukan hanya sekadar tahu saja tentang musik, namun ia mahir memainkannya. Versi King James dalam 1 Tawarikh 15:22 juga menyatakan bahwa Kenanya, seorang pemimpin Lewi, dipilih Tuhan karena “he instructed about the song, because he was skillful”. Jadi kedua hal yang paling penting dalam musik gereja adalah kerohanian dan keterampilan yang harus dikembangkan secara bersama dan terus-menerus.

Musik gereja dapat menjadi berkat bagi jemaat bila dipakai dan dikembangkan dengan baik dan benar. Pada saat kita akan membangkitkan apresiasi musik kepada anggota jemaat, para musisi gereja harus sadar dan ingat bahwa tidak semua anggota gereja memiliki latar belakang musik. Itu sebabnya jemaat harus diajar dengan sabar dan bertahap untuk menunjukkan bahwa musik juga dapat dipakai untuk mengekspresikan kekristenan.

Related posts

Comments are closed.