Tithan Wulung Suryata. SE, M.Si Pelatih Sepakbola dan Staf Administrasi Program Pasca Sarjana S2 UNSA SAATNYA PEMERINTAH SERIUS GARAP SEPAKBOLA

Tithan Wulung Suryata

Angin Segar Bagi Dunia Persepakbolaan Indonesia, karena dalam perebutan Piala AFF Cup tim kesebelasan Indonesia bisa berhasil mengalahkan lawan dan masuk kebebak berikutnya yaitu Tailand. Melihat realita demikian saya sebagai pecandu tim kesebelasan sepakbola sekaligus pelatih sepakbola di kesebelasan Universitas Surakarta (UNSA) merasa senang dan bangga, lega, karena bisa menang dan berhak maju dalam babak berikutnya. Sekrang saatnya pemerintah meningkatkan perhatian atas prestasi yang diraih oleh anak-anak sepakbola di Indonesia. Bagi Para pemain yang berhasil harus diberi tanda kehormatan perghargaan dalam bentuk apapun, kemudian tidak salah pula jika mereka setelah pensiun dari dunia olahraga diberi pekerjaan, atau diangkat jadi pegawai atau karyawan di suatu lembaga atau perusahaan (BUMN) milik pemerintah. Jangan sampai ada atlit yang sudah berjasa memabawa nama bik di mata dunia, malah dibiarkan, tidak terurus, shingga banyak atlit yang juala bensin, pengangguran, kasihan mereka. Karena itu dalam kesempatan yang baik ini, saya mengharap agar pemerintah serius menggarap sepakbola, tutur Tithan kepada majalah DIDIK belum lama ini.

Pria tampan asli kelahiran Sragen, 1 Februari 1998 ini adalah anak tunggal dari bapak Yudi Suryata dan ibu Safari Nurtiningsih. Bapak sebagai seorang pelatih sepak bola di Sragen dan ibu seorang ibu rumah tangga. Alamat rumah saya di Rejowinangun RT.16 Masaran Sragen. Lebih lanjut ia kemukakan bahwa olahraga sepakbola merupakan dunianya sehari-hari, boleh dibilang menu utama. Tanpa bola dunia ini terasa sepi, tidak ramai dan kurang indah. Inilah pandangan saya tentang sepakbola, apapun kata orang selalu ia dengar, dan setiap orang boleh berpendapat apapun yang penting tidak menyinggung hati mereka. Pokoknya hidup di bumi Indonesia ini janagan sekali-kali meninggung soal SARA. Sekali lagi sepak bola adalah duniaku, menuku, dan keindahanku. Sepakbola itu merupakan satu darui sekian jenis olahraga yang paling berat, membutuhkan stamina, pernafasan, dan kecerdasan, karena ada strategi untuk menggolkan bola ke gawang lawan melalui jurus-jurus jitu. Disitulah kedudukan serta peran olahraga yang satu ini, disebut olahraga butuh kecerdasan IQ yang tinggi.

Sekilas menceritakan tentang hobi sepakbola, Tithan yang dikenal oleh para mahasiswa dan dosen di UNSA sangat supel, murah senyum, dan memiliki sopan santun yang tinggi ini menambahkan bahwa sepakbola juga membawa sikap positif mengarah pada sportifitas, melatih seseorang untuk bersiap diri, konsekuen dan disiplin. Memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, berkarakter, beretika. Olahraga sepakbola menjadikan orang selalu sehat. Sebab sehat itu mahal harganya disini jika dijabarkan sangat luas maknanya.

Menceritakan tentang karier sepakbola yang notabene sebagai hobbi utama, Mas Tithan (panggilan akrab-red) ini menambahkan bahwa dunia sepakbola selain menjadi hobbi, juga menu, bagaimanakan makanan sehari-hari. Kalau makanan bikin kenyang, tapi kalau bola biking senang dan sehat. Dan bagi saya kesehatan itu pangkal atau modal dasar bagi manusia dalam meraih apa saja. Tanpa sehat segala sesuatu itu tidak akan tercapai.

Pada awalnya saya ini sebagai pemain sepak bola yunior dari desa sampai ke kota. Pertama kali saya awali dari PSSISRA Sragen Junior, kemudian melangkahkah kaki le tingkat atau jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu di PERSIKA Karanganyar Junior, di PERSIS Junior, dan terakhir saya di PERSIJAP Jepara U-23. Oke, waktu terus berjalan, prestasi demi prestasi terus mengalir, saya gapai dan menjadikan hidup saya semakin optimis, maju terus pantang mundur, sepakbola sebagai menu utama dalam kehidupan saya sehari-hari, sepakbola bikin hidup saya sehat hingga mengkolaborasikan antara kerja, olahraga, dan kuliah. Syukur Alhamdullilah dari sepakbola saya bisa menyelesaikan kuliah S1, S2, dan doakan saja sebentar lagi saya akan mengambil S3 Program Doktor. Karena saya juga bercita-cita ingin jadi ddosen (guru besar( selain menjadi pelatih sepakbola. Mumpung masih muda saya harus berjuang sekuat tenaga agar di hari tua nanti puas dan apa yang saya dambakan selama ini bisa tercapai. Semoga Allah meridhoi. Amin.!

Sekilas cerita, pada tahun 2008 saya sudah menekuni kuliah di UNSA jurusan S1 Manajemen Ekonomi, kemudian saya lulus tahun 2011 dan melanjutkan ke Pelatihan Prestasi Sepak Bola. Dan selama menjadi pemain sepakbola hanya sekedar di level bawah seperti di POPDA, kemudian pernah menjadi juara 1 di level Jawa Tengah. Selama menjadi pelatih sepakbola 2014 pernah membawa UNSA menjadi Runner Up Liga Pendidikan di Jawa Tengah, kemudian di 2016 membawa Juara 1 Regional di Semarang atas Turnamen Torabika Campus Cup, lemudian berlanjut di level nasional, saya membawa tim dan berhasil menjadi Runner Up di tahun 2016.

Sedikit menceritakan riwayat pendidikan, saya pernah sekolah dan lulus dari SDN 1 Masaran, lulus dari SMPN 1 Masaran, lulus dari SMAN 3 Sragen, lulus S1 dari jurusan Manajemen Ekonomi UNSA, lulus dari Program S2 jurusan Magister Ilmu Administrasi UNSA.

Mengaku pernah berkeluarga tapi gagal, dan sudah memiliki anak. Saat ini menjadi Staff Administrasi Program Pascasarjana di UNSA dan berencana melanjutkan S3. Cita-cita sebenarnya menjadi pelatih sepak bola.

Perkembangan sepak bola di Indonesia ini menurut saya sangat menarik karena sepanjang perjalanan ini, Indonesia sudah atau pernah terkena sanksi, kemudian selama vakumnya kompetisi resmi di Indonesia saya berfikirnya itu akan menjadi penghalang, tetapi sejauh ini justru menjadi motivasi tersendiri bagi para pemain-pemain sehingga mereka bisa menunjukkan bahwa penilaian terhadap Indonesia itu salah.

Menjawab pertanyaan dari majalah DIDIK tentang Kesebelasan Sepak Bola di UNSA ini sudah dikelola sangat baik, kebetulan pada tahun 2016 ini kami sudah bergabung dengan salah satu tim peserta Liga Nusantara di Sidoharjo.

Lebih lanjut dikatakan dampak dari sanksi yang pernah diberikan kepada Indonesia saat itu membuat dunia persepakbolaan kita menjadi dewasa. Membuat sepakbola kita semakin maju dan memiliki arti dan makna sangat positif, lebih semangat, dan berhati-hati.

Apa parameternya, karena kita lihat, akhir-akhir ini dunia persepakbolaan kita menjadi juara di tingkat nasional sehingga seluruh wilayah Indonesia mungkin sudah mengenal kita sebagai sepak bola kampus.

Jika mengenal lebih jauh siapa pria tampan berkumis ini, maka yang ada dalam benak kita pasti orangnya sangat disiplin dan dermawan. Cekatan dan jika membantu orang lain tanpa di embel-embeli rasa pamrih, itu sekilas tentang siapa Tithan.

“Saya termasuk orang yang disiplin, tegas, dan humoris. Pemain-pemain yang sudah mengenal saya pasti tahu bahwa saya tegas tapi tidak kaku”, ungkapnya. Menurutnya Melatih mahasiswa termasuk lebih mudah daripada melatih anak-anak berumur 12 tahun, karena dalam melatih anak kecil itu harus prigel atau lebih rumit, tetapi juga menyenangkan. Anak-anak lebih bisa diatur dalam berlatih.

Mengakhiri perbincanganya dengan majalah DIDIK, Mas Tithan berharap semoga dengan mengawali tahun baru ini nanti, dunia persepakbolaan di UNSA semakin maju dan berkembang, tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tahun ke depan dengan Ketua Umum yang baru semoga Indonesia semakin maju dan berkembang, tidak hanya kondang di tingkat nasional (Indonesia), atau ASIA saja, tetapi kalau bisa ditingkat dunia.

Pemerintah saya harap lebih memberi perhatian terhadap sepak bola Indonesia. Menurut saya sangat baik jika pemain berprestasi perlu mendapatkan perhatian, tidak harus berupa segepok uang, tetapi juga bisa lapangan pekerjaan dari pemerintah karena mereka sudah membawa nama baik klub. Namun yang ada, kendati sudah dilakukan pemerintah, tetapi belum merata, saat ini saya melihat masih banyak atlet-atlet nasional yang hidupnya malah sengsara, sehingga diharap ke depannya bisa lebih baik.(Riestanto/r)

Related posts

Comments are closed.