Sunarto, S.Pd ( Ketua K3S dan Kepala SD Negeri Dawung 1 Kecamatan Mateseh, Karanganyar) Bukan Sekadar Untuk Kepentingan Pribadi

Kuliah

Seorang pendidik yang juga berwirausaha diharapkan justru bisa saling mendukung dalam mengembangkan profesinya. Kepala sekolah atau guru yang berkecimpung dalam wirausaha tentu ia memiliki kelebihan dibanding yang lain, diantaranya ia memiliki semangat yaitu mau bekerja keras, bisa bekerjasama dengan orang lain, penampilan yang baik, percaya diri, pandai membuat keputusan, mau menambah ilmu pengetahuan dan pandai berkomunikasi.
Kemampuan pendidik, katakanlah kepala sekolah yang berjiwa wirausaha dalam berinovasi sangat menentukan keberhasilan sekolah yang dipimpinnya karena kepala sekolah tersebut mampu menyikapi kebutuhan, keinginan dan harapan masyarakat akan jasa pendidikan bagi anak didiknya. Demikian Sunarno, S.Pd selaku Kepala SDN Dawung 1 Kecamatan Mateseh, Karanganyar menuturkan kepada Majalah DIDIK saat dikonfirmasi mengenai dunia guru sebagai tenaga pendidik profesional dan peluangnya dalam berbisnis atau berwirausaha di luar profesinya beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut ia menerangkan bahwa, rendahnya persentase kewirausahaan penduduk Indonesia disebabkan oleh rendahnya minat masyarakat menggeluti kewirausahaan. Rendahnya minat ini, bisa saja disebabkan oleh tidak adanya jiwa entrepreneurship dan kenyamanan akan kekayaan sumber daya alam yang membentuk kultur yang kurang kreatif dan produktif. Oleh karena itu, upaya peningkatan persentase kewirausahaan penduduk di Indonesia harus ditempuh dengan segala cara. Salah satunya adalah upaya sistemik yang dilakukan melalui pendidikan kewirausahaan yang terintegrasi dalam pembelajaran.
Pendidikan kewirausahaan yang terintegrasi dapat dilakukan dalam hal pembentukan nilai-nilai kewirausahaan pada diri orang yang menyertai perkembangan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Karena seorang guru, seringkali terpaku pada jam mengajar di kelas saja. Sedikit diantaranya yang mampu mengoptimalkan kemampuan wirausaha di luar jam mengajar. Padahal, jika dilakukan secara lebih optimal, maka wirausaha menjadi kesenangan dalam berbisnis. Asalkan wirausaha tersebut tidak mengganggu jam mengajar di sekolah.
“Usaha untuk keberhasilan sekolah semestinya boleh dilaksanakan, yang tidak boleh dilakukan adalah wirausaha/bisnis untuk kepentingan pribadi pada waktu jam sekolah, karena jelas mengganggu jam mengajar di sekolah,” pungkasnya. (Ami/r)

Related posts