KPAI Catat Beberapa Masalah Dalam Pelaksanaan UN

KPAI Catat Beberapa Masalah Dalam Pelaksanaan UN

Pacitan – Pelaksanaan ujian nasional (UN), jenjang SMA dan sederajat, memang sudah berlalu. Meski banyak menyedot anggaran negara, dan persiapan cukup melelahkan, namun dari sisi proses masih banyak menyisakan persoalan. Menurut kajian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pelaksanaan UN 2015 ditengarai masih menemui beragam masalah. Diantaranya, masalah bocor soal yang beredar di dunia maya. Hal ini membuktikan bahwa manajemen kerahasiaan soal UN belum berjalan dengan baik. Persoalan kedua, tidak sinkronnya materi listening Bahasa Inggris dengan naskahnya. Ini terjadi di beberapa titik daerah di Jawa-Timur. “Fenomena tersebut meneguhkan betapa pelaksanaan UN masih cacat proses,” ujar Susanto, Komisioner KPAI, melalui layanan Black Berry Messenger (BBM), Minggu (19/4).

Susanto juga menyebut, adanya masalah keterlambatan sinkronisasi antara server dan lokal yg terjadi si salah satu sekolah di Gunung Kidul. Persoalan lain kendala aliran listrik PLN yaitu padamnya lampu di Jaya Pura, Papua, selama 15 menit. Kendala itu menyebabkan keterlambatan koneksi jaringan ulang selama 30 menit. Sedangkan di salah satu sekolah yang ada di Bandung, tak bisa log in pada sesi 1 mata ujian Bahasa Indonesia, yang menyebabkan dua ruangan gagal UN. “Yang terakhir, ada keterlambatan distribusi soal di beberapa titik lokasi,” bebernya pada media, kemarin.

Merujuk beberapa masalah tersebut, KPAI meminta kepada pemerintah agar manajemen persiapan dan proses UN harus dilakukan perbaikan yang radikal. Karena kasus seperti itu, dari tahun ke tahun, masih sering terjadi. Masalah utamanya, karena miss management. Selain itu, masalah tersebut jangan sampai terjadi saat UN SMP/MTS bulan Mei 2015. “Pemerintah harus bisa membuktikan bahwa revolusi mental harus terealisasi dalam pelaksanaan UN. Jika layanan UN saja gagal sesuai target, tentu akan berdampak pada kegagalan agenda revolusi mental. Karena pendidikan sejatinya, ikon revolusi mental yang mendasar. Jangan berharap kalau soal UN saja bocor dan beredar di dunia maya, revolusi mental dalam dunia pendidikan berhasil,” kritik Susanto.

Lebih lanjut, Komisioner asal Pacitan itu mengatakan, bocornya soal, bukan karena ada oknum pembocor. Akan tetapi karena sistem yang lemah, sehingga masih membuka ruang seseorang untuk melakukan pembocoran?. (yun).

Related posts