Dua Aset Daerah Di Kawasan Wisata, Rusak Parah. Disbudparpora Terkesan Masa Bodoh Ancam ke?selamatan wisatawan dan warga sekitar

Kolam

PacitanNews – Keberadaan dua aset daerah, berupa bangunan pemandian serta bekas Cafe Panorama di kawasan wisata Pantai Tamperan, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, kondisinya rusak parah. Hampir semua bangunan, terutama rangka atap, sudah banyak yang lapuk dimakan usia. Khususnya bekas Cafe Panorama, yang hampir sebagian besar kayu penyangga serta rangka atapnya, ?banyak yang keropos dan nyaris ambruk. Tentu, hal tersebut sangat mengancam keselamatan wisatawan serta warga sekitar. Sebab belakangan, dua aset daerah tersebut, khususnya bekas Cafe Panorama, tengah dipergunakan para nelayan andon untuk beristirahat.

Pemandangan semacam itu bisa dilihat dari banyaknya tali yang dikaitkan diantara pilar kayu sebagai tempat jemuran. ?Fakta tersebut membuktikan, kalau di lokasi yang sangat membahayakan itu ada kehidupan. “Kami sangat khawatir kalau terjadi sesuatu. Sebab rangka atap dan sebagian besar pilar bangunan yang terbuat dari kayu, banyak yang lapuk,” terang Joko Suparyono, Kepala Bidang Aset, Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (DPPKA) Pacitan, Rabu (15/4).

Menurut Joko, tidak menutup kemungkinan, selain wisatawan, saban hari banyak anak-anak kecil yang bermain diseputar kawasan tersebut. Tentu, kondisi bangunan yang sudah rusak parah sangat mengancam keselamatan mereka. Kayu-kayu berdiameter besar, bisa jadi bergeser atau bahkan ambruk dan menimpa pengunjung ataupun penghuni didalamnya. Apalagi, belakangan musim lagi ekstrim. Selain hujan deras, juga hembusan angin dari arah pantai ?sangat kencang menerpa bangunan-bangunan dipesisir pantai. “Ini sangat membahayakan keselamatan warga dan para wisatawan yang mungkin tengah berkunjung dilokasi tersebut,” bebernya pada wartawan Memo, kemarin.

Terkait persoalan tersebut, Bidang Aset, lanjut Joko, sudah menyampaikan telaah staf kepada pengelola aset daerah. Dalam uraiannya, dijelaskan kalau keberadaan dua aset daerah itu sudah rusak parah dan sangat membahayakan keselamatan pengunjung wisata ataupun warga sekitar. Karena itu, selaku liding sektor yang ngurusi semua kekayaan daer?ah, ia berharap segera ada penyikapan dari SKPD pengguna. Yaitu Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora). “Kami sudah menerima disposisi dari pengelola aset. Agar segera melakukan koordinasi dengan SKPD pengguna,” ungkap Joko.

Sementara itu, Kepala Disbudparpora setempat, H. Wasy Prajitno, tidak berkenan dikonfirmasi terkait persoalan tersebut. Mantan Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan itu tidak menjawab konfirmasi wartawan yang dikirimkan melalui layanan pesan singkat (SMS). Dalam konfirmasi yang disampaikan ke orang nomor satu di SKPD yang ngurusi pariwisata tersebut, wartawan meminta keterangan tentang sikap yang akan diambil terkait persoalan yang menyangkut keselamatan jiwa manusia. Namun demikian, hingga berita ini ditulis, tidak ada jawaban atau keterangan apapun dari pejabat yang juga pernah ditugaskan sebagai asisten sekkab tersebut.

Dilain pihak, Kepala Bidang Sumber Daya Kelautan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pacitan, Bambang Mahaendrawan, mengaku tidak bisa berbuat lebih terkait persoalan yang saat ini tengah dialami sejumlah nelayan andon, khususnya mengenai rumah singgah mereka. Sebab, sudah sekian lama DKP memohon lokalisasi rumah andon ke pemerintah daerah, namun tidak ada jawaban yang selaras dengan harapan. “Kami pernah memohon, agar bekas Cafe Panorama bisa dimanfaatkan sebagai perumahan andon. Namun begitu, jawaban yang kami terima belum sesuai harapan,” ujar Bambang, ditempat terpisah.

Bambang mengungkapkan, lokasi bekas tempat hiburan malam tersebut, konon akan dikelola investor.? Akan tetapi sampai detik ini, rencana tersebut hanya sebatas rencana. Padahal, hingga saat ini, jumlah nelayan andon di Pacitan sudah mencapai 1.000 orang lebih, dengan 150 unit kapal tangkap. Sebagian dari mereka memang ada yang menginap di beberapa home stay, atau menyewa perumahan penduduk. Sebagian lagi, juga tak sedikit yang berteduh di lantai dua, gedung perkantoran Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP), dan mungkin juga ada yang menempati, bangunan bekas cafe tersebut. “Memang ada empat ruang dilantai dua gedung PPP yang disediakan sebagai tempat peristirahatan temen-teman andon,” bebernya pada media.

Lebih jauh, pejabat yang pernah digadang sebagai kandidat Kabag Humas itu mengakui, bukannya sebagai sikap disparitas, atau diskriminatif perlakukan para nelayan andon dengan masyarakat sekitar. Namun, sebagaimana yang dialami daerah-daerah pesisir diluar Pacitan, keberadaan mereka memang sangat ideal kalau terpisah dengan masyarakat lokal. Budaya, serta tipikologi para nelayan andon, memang sedikit beda dengan warga pada umumnya. Perbedaan inilah yang dipandang, memang perlu adanya lokalisasi bagi mereka. Meski diakuinya, wilayah pesisir Pacitan dipandang paling kondusif dalam konteks perselisihan budaya serta karakter dari nelayan andon dan masyarakat lokal. “Sekali lagi, bukannya kami memandang sebagai sebuah perbedaan, akan tetapi lebih pada penempatan yang pas agar ada interaksi sosial yang semakin kondusif,” tandasnya. ( Arry )

Related posts