LSM Kritisi Mundurnya Dokter Spesialis Syaraf

LSM

Pacitanews-Kabar mundurnya dokter spesialis syaraf, Iwan Setyawan, dari tugas kedinasan sebagai PNS di Rumah Sakit Daerah (RSD) Kabupaten Pacitan, terus menuai kritikan dari sejumlah pihak. Setelah lembaga DPRD bernyanyi lantang, kini giliran pegiat LSM, juga ikut angkat bicara. Mereka sangat prihatin atas tindakan dokter asal Boyolali tersebut. Meski, mundur dari PNS, sejatinya hak setiap aparatur yang harus dihormati. Ketua Lembaga Konsultan Publik, Arif Setya Budi, menegaskan, bupati selaku pejabat pembina kepegawaian, diharapkan bisa mempertimbangkan permohonan pengunduran diri dokter spesialis syaraf tersebut sebagai PNS. “Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan menerima ataukah menolak permohonan tersebut,” ujarnya, Senin (2/1).

Arif menyadari, keberadaan tenaga medis, khususnya dokter spesialis, memang? sangat dibutuhkan. Bahkan keahlian mereka, seakan tidak bisa digantikan oleh dokter lainnya. Karena kondisi seperti itulah, akhirnya membuat dokter-dokter berkeahlian khusus itu lebih mengedepankan egonya. Mereka seakan-akan seperti layaknya seorang kiyai, yang sangat diagung-agungkan oleh para santrinya. Semangat paternalistik, masih menjadi platform dalam kepemimpinan seorang tokoh agama disebuah pondok pesantren tersebut. “Tanpa seorang kiyai, proses belajar-mengajar di sebuah pondok pesantren seakan menjadi stagnasi. Sehingga wajar, kalau keberadaannya sangat dielu-elukan oleh para santri. Mungkin sama dengan seorang spesialis. Karena merasa dibutuhkan, mereka lebih mengedepankan egonya, dari pada tugas kemanusiaannya sebagai seorang tenaga medis,” tutur Arif, memberikan analogi.

Menyikapi paradigma seperti itu, Arif berharap agar para tenaga medis berkeahlian khusus, bisa membedakan ruang tugasnya. Selain sebagai aparatur pemerintah, mereka juga bagian dari masyarakat. Tugas mereka lebih bersinggungan dengan kemanusiaan. Soal keuntungan, tentu sebagai manusia juga mempertimbangkan hal tersebut. Pegiat LSM yang dikenal vocal ini juga menyadari, kalau selama ini insentif yang diberikan pemkab, mungkin masih jauh dari yang diharapkan. “Tapi sekali lagi, mereka harus ingat, sebagai seorang PNS harus tunduk dan patuh dengan aturan-aturan kepegawaian. Meski, keahlian profesi juga patut diperhitungkan,” tegasnya pada wartawan, kemarin.

Sementara itu Direktur RSD Pacitan, dr. Iman Darmawan, membenarkan rencana mundurnya dr. Iwan Setyawan, Sps dari RSD Pacitan. Namun bagaimana prosesnya, itu kewenangan Badan Kepegawaian Daerah (BKD). “Bagaimana prosesnya, BKD yang lebih berkompeten memberikan keterangan,” katanya, secara terpisah.

Menurut Iman, saat ini di RSD Pacitan, sudah memiliki 15 dokter spesialis. Termasuk, spesialis syaraf. Sehingga diakuinya, kalau ada satu spesialis yang pergi, tentu pelayanan kesehatan akan sedikit terganggu. Karena itu, Iman berharap, sebelum permohonan pengunduran diri dr. Iwan Setyawan, dikabulkan, terlebih dulu ada penggantinya. “Sebenarnya banyak dokter spesialis dari luar daerah yang berkeinginan masuk Pacitan. Tapi semua itu, bergantung kebijakan daerah,” tandasnya, kemarin. (yun).

Related posts