Larangan Menghidupkan Peralatan Elektronik Didalam Pesawat

Larangan Menghiudpkan HP

Telepon seluler tau telepon genggam adalah alat komunikasi 2 arah yang digunakan untuk berkomunikasi baik teks, audio maupun data. Secara normal alat ini sangat efisien untuk berkomunikasi. Metode moduliasinya dikenal ada beberapa sistem, diantaranya adalah TDMA atau Time Division Multiple Acces yang kita kenal secara umum dengan sistem GSM atau Global System for Mobile Communication dan CDMA atau Code Division Multiple Acces. Namun bagaimana halnya jika kita sedang mengendarai pesawat terbang. Maka peralatan komunikasi 2 arah harus dimatikan.
Pada tahun 1988 RCTA atau Radio Technical Communication Aeronautics telah merekomendasikan larangan penggunaan peralatan elektronik portable pada saat pesawat lepas landas dan mendarat.
Saking asyiknya atau mungkin sangat darurat terkadang penumpang masih saja melakukan komunkasi saat sudah didalam pesawat. Saat pesawat lepas landas dan mendarat adalah saat paling kritis. Pada posisi pesawat mendekati daratan, pilot tidak ingin ada gangguan apapun, terutama pada instrumen navigasi penerbangan karena pengaktifan ponsel dan laptop.
Handphone dan juga sistem komunikasi pesawat sama-sama mengandalkan frekuensi. Ponsel yang terkoneksi dengan Base Transceiver Station (BTS), meski tidak digunakan berkomunikasi, tetap aktif mencari sinyal. Sementara pilot berkomunikasi dengan Air Traffic Control (ATC) adalah crew yang mengatur lalu lintas udara.
Terjadinya benturan gelombang elektromagnetik akan menimbulkan noise yang mengganggu sistem komunikasi pesawat dan membuat pilot kesulitan menangkap sinyal instruksi dari ATC.
Kecelakaan pesawat akibat interferensi peralatan elektronik portable sekitar 0,08 % menurut hasil penelitian NASA pada Januari 1986 – Juni 1996.
Tetapi demi keselamatan penerbangan, harusnya siapapun tidak mengambil risiko apapun, termasuk mengaktifkan peralatan elektronik yang berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.
Maka dibuatlah undang – undang yang sangat tegas agar peraturan ini ditegakkan. Pasal 54 butir (f) dalam Undang-undang RI Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan dilarang melakukan Pengoperasian peralatan elektronika yang mengganggu navigasi penerbangan.

Related posts