Keberadaan Klinik Arta Medica, Kembali Disoal Ditengarai ada pemalsuan dokumen perizinan.

keberadaan klinik arta medica

Pacitan – Keberadaan klinik rawat inap, Arta Medica, yang berlokasi di sepanjang Jalan dr. Soetomo, Kelurahan Baleharjo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, terus memunculkan kontroversi. Hal tersebut dipicu ?lahan parkir yang sejak tiga tahun klinik tersebut didirikan, tidak segera disediakan oleh pihak penyelenggara klinik rawat inap tersebut. Selain masalah lahan parkir, sejumlah warga disekitar klinik juga menyoal pengelolaan limbah medis yang dituding belum memenuhi standar instalasi pengelolaan air limbah (IPAL).

Menurut keterangan sejumlah warga, sejak klinik rawat inap dengan belasan kamar perawatan itu beroperasi, arus lalu-lintas dikawasan tersebut sering mengalami ?kemacetan. Kondisi tersebut dipicu parkir kendaraan keluarga pasien yang nampak semrawut dibahu jalan. Tak ayal, badan jalan menjadi menyempit karena berjubelnya kendaraan roda empat dan sepeda motor yang tengah parkir di depan klinik. Kondisi tersebut sangat membahayakan pengguna jalan yang tengah melintas dikawasan itu. Terbukti, Selasa (3/2) kemarin, sempat terjadi dua kasus laka-lantas dengan tempat kejadian perkara (TKP) tak jauh dari lokasi klinik. “Penyebabnya ya karena badan jalan menyempit, sehingga menghalangi pandangan pengendara,” terang warga yang meminta tidak disebutkan namanya pada wartawan, Rabu (4/3).

Warga yang juga bermukim tak jauh dari lokasi klinik milik dr. Harto tersebut mengungkapkan, sejak awal akan berdiri, memang sudah acap kali terjadi perselisihan dengan warga. Sebab diduga, perizinan yang diajukan tidak sesuai dengan kondisi riil saat ini. Sumber tersebut mengatakan, awalnya pihak penyelenggara klinik rawat inap meminta persetujuan warga, sebagai mini market. Meski banyak warga yang menerima permohonan tersebut, namun juga tak sedikit yang kontroversi. Sehingga, muncul praduga juga, ada beberapa tanda tangan warga sebagai bukti persetujuan yang dipalsukan. “Awalnya lokasi tersebut sebagai mini market. Tapi setelah ada persetujuan dari perwakilan warga, kok berubah menjadi klinik rawat inap,” beber sumber yang sudah lama kenal dengan wartawan itu, kemarin.

Pro-kontra keberadaan klinik Arta Medica, sejatinya masih terus berlanjut hingga detik ini. Indikasi itu bisa dilihat dari ketersinggungan sejumlah warga Lingkungan Purwoharjo, Kelurahan Baleharjo, soal pengelolaan parkir. Sampai-sampai, niat baik dari pihak management klinik memberikan bingkisan saat hari raya Idul Fitri lalu, akhirnya dikembalikan oleh warga. “Mereka mensinyalir, pemberian bingkisan itu sebagai sarana untuk merayu warga agar mendukung keberadaan klinik,” ceritanya, menduga-duga.

Terkait kesemrawutan lahan parkir yang hingga saat ini belum terpecahkan, sempat memantik perhatian Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) setempat. Widi Sumardji, Kepala Dishubkominfo, mengatakan, pihaknya sudah pernah membawa masalah tersebut hingga ke forum lalu-lintas kabupaten. Bahkan Bupati Indartato, sudah pernah mendapatkan masukan soal kesemrawutan parkir di lokasi klinik. “Kami pernah merekomendasikan, agar pihak penyelenggara membangun lahan parkir dilantai bawah. Namun imbauan tersebut tidak dilaksanakan. Lokasi yang seharusnya dipergunakan sebagai tempat parkir, malah dibangun kamar-kamar perawatan,” terang Widi, ditempat terpisah.

Lebih dari itu, Dishubkominfo, juga pernah memberikan solusi, agar lahan parkir dialihkan ke halaman SD yang berada didepan klinik. Sebab bangunan milik Pemkab Pacitan tersebut tidak lagi difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. “Saran kami tetap tidak diindahkan. Buktinya sampai detik ini, parkir kendaraan masih terserak ditepian jalan,” tegas mantan Kasatpol.PP itu.

Parahnya lagi, selain tidak beraturan masalah parkiran, konon ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi tersebut dengan menarik retribusi parkir secara ilegal. “Dishub tidak pernah mengelola parkiran dikawasan klinik Arta Medica. Kalaupun ada tarikan, itu Diluar tanggung jawab kami,” tegasnya.

Saat dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan (BPMP2) setempat, Lan Naria Hutagalung, mengatakan, proses perizinan atas klinik tersebut dinilai sudah prosedural. Dia juga menampik, adanya tudingan pemalsuan dokumen, yang awalnya sebagai mini market namun dirubah menjadi klinik rawat inap. “Dari awal pengajuannya memang sebagai klinik, bukan sebagai mini market,” tegas mantan Kepala Distamben itu.

Sementara Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Pacitan, T. Andi Faliandra, meminta waktu untuk melakukan kajian atas keberadaan klinik rawat inap Arta Medica. Sebagai pejabat baru, Andi harus lebih berhati-hati dan selektif sebelum memberikan keterangan persnya. Selain masalah pengelolaan limbah, juga lahan parkir yang akan menjadi atensi serius dari SKPD dibawah kendalinya itu. “Secepatnya akan kami lakukan kajian. Hasilnya bagaimana, nanti setelah ada kejelasan segera kami sampaikan pada media,” tutur mantan Kabag Humas dan Protokol tersebut. (yun).

Related posts