Aparatur Dihimbau Jiplak Filosofi Matahari

Matahari

Pacitan – Tujuan mensejahterakan masyarakat sabagaimana yang dicitai-citakan para pemimpin di negara ini, tentu harus dibarengi dengan kesepahaman persepsi dari semua penyelenggara pemerintahan, baik di level pusat hingga daerah. Demikian diungkapkan Bupati Pacitan, H. Indartato, dalam merefleksikan makna pergantian tahun, kemarin (31/12).

Menurut Indartato, persepsi muncul dari dorongan jiwa untuk mengimplementasikan arti demokrasi yang bebas dan berimbang. Kebebasan berpendapat, memang hak setiap individu, tanpa kecuali. Akan tetapi, kebebasan yang dilatari sebuah persepsi atau anggapan positif, tentu akan melahirkan sebuah sistem demokrasi yang memiliki kekuatan dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Yaitu menuju masyarakat yang adil dan sejahtera. “Demokrasi ada, dan bisa dilaksanakan di negara ini, karena ada sistem politik yang melatari. Politik bisa berkembang, dan turut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan, karena adanya partai politik yang mewadahi,” jelasnya.

Karena itulah, Indartato mengajak kepada semua komponen penyelenggara pemerintahan didaerah, agar pengalaman mengemban amanah rakyat disepanjang Tahun 2014 ini, bisa dijadikan sarana untuk mawas diri. Yang baik, tentu dipertahankan dan terus dikembangkan ditahun-tahun mendatang. Sedangkan yang kurang baik, sedapat mungkin bisa ditinggalkan dan dibenahi. “Kuncinya satu, mari kita menyatukan persepsi. Sebab dengan satu persepi, tujuan pemerintah mensejahterakan masyarakat akan bisa tercapai,” jelas bupati berlatar Partai Demokrat tersebut.

Lebih lanjut Indartato menekankan, agar para penyelenggara pemerintahan didaerah, bisa menjilpak fenomena tata surya sebagai filosofi kehidupan. Kesetiaan dan loyalitas Matahari, dengan sang pencipta tak akan pernah lapuk hingga akhir zaman nanti. Sekali terbit di sebelah Timur dan tenggelam di sebelah Barat, selama itulah dia selalu taat, setia, dan tak pernah ingkar janji. “Filosofi matahari tersebut, bisa dijadikan landasan bagi semua aparatur di Pemkab Pacitan, dalam mengemban tugas melayani masyarakat,” terang bupati.

Sementara itu, di dalam mengenali arti kata “persepsi”, perlu juga mengenal tentang kekonstanan persepsi. Yaitu persepsi bersifat tetap yang dipengaruhi oleh pengalaman. Kekonstanan persepsi tersebut meliputi bentuk, ukuran, dan warna. Salah satu contoh kekonstanan persepsi, yaitu ketika meminum susu ditempat yang gelap. Maka tidak akan pernah menyebut warna, kalau susu tersebut hitam. Melainkan akan tetap menyebut warna susu adalah putih. Meski di dalam kegelapan warna putih sebenarnya tidak tampak.

Begitu pula saat seseorang melihat uang logam dari arah samping, setiap orang pasti tetap akan menyebut uang logam tersebut berbentuk bundar. Padahal apabila dilihat dari samping, sebenarnya uang logam tersebut berbentuk pipih. Itulah yang disebut dengan kekonstanan persepsi. Memberikan persepsi terhadap suatu obyek berdasarkan pengalaman yang diperoleh sebelumnya. (yun).

Related posts