Kurikulum 2013 (K-13) Dihentikan, Guru dan Murid Lega

 

Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah (Menbudikdasmen) Anies Baswedan secara resmi mengumumkan penghentian pelaksanaan Kurikulum 2013 , Jumat (5/12) lalu. Keputusan tersebut disambut senang para guru. Mereka selama ini banyak yang merasa terbebani dengan pelaksanaan K-13 tersebut.

Seperti kita ketahui kurikulum 2013 sebelumnya diberlakukan pada era mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan(Mendikbud)
Mohammad Nuh. Kendati demikian Penghentian Kurikulum 2013(K 13) ini menimbulkan tanggapan yang berbeda. Ada yang setuju ada pula yang tidak setuju dengan penghentian K 13.

Namun tampaknya pihak yang pro terhadap kebijakan ini jumlahnya lebih banyak. Selain para guru yang mengaku lega atas penghentian K 13, sejumlah pejabat terkait, orangtua murid, dan para murid sendiri pun menyatakan lega dihentikanya K 13.

Beberapa guru menyatakan, K 13 dinilai menyulitkan guru dalam menyampaikan materi yang kurang disambut baik oleh murid-murid. Sontak tak sedikit guru yang mendukung keputusan penghentian K 13 ini. Seperti yang dipaparkan salah satu guru di karanganyar, Nuning, para guru masih kebingungan meski telah mendapatkan pelatihan K13. Sebab, katanya, proses pelatihannya hanya berbentuk forum seminar dengan kurun waktu yang cukup singkat.

“Sosialisanya melaliu Power Point yang dijelaskan instruktur, lalu guru disuruh membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sendiri ,” ujar Nuning saat dijumpai tim usai mengajar dikelasnya, Senin (8/12/2014).

Ditempat yang berbeda, salah seorang guru sekolah lain yang enggan disebut namanya juga mengungkapkan, materi tingkat sekolah dasar (SD) yang mengikuti K 13 dinilai terlalu tinggi. Menurutnya, materi itu berat untuk tingkat SD jika dibandingkan dengan sistem kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

Seharusnya dilakukan selama lima hari. Namun pada kenyataannya, pelatihan guru hanya dilakukan tiga hari. Sehingga pelatihan tersebut dianggap tak cukup untuk mengubah pola pikir guru dalam proses pembelajaran.

Kebingunganpun sontak melanda beberapa kepala sekolah dan siswa-siswinya. Seorang siswi SD di karanganyar Mutia mengatakan, lebih mudah sistem pembelajran lama dibanding sekarang.

“Lebih mudah kurikulum yang lama (KTSP) dibanding yang sekarang (K 13). Yang dulu mudah dipahami tapi yang sekarang susah tidak mengerti”, ujar Mutia saat di tanyai mengenai K 13 di kelasnya,(8/12/2014). #Gilang

Related posts