BBM Naik, Beberapa Obat Menghilang Dari Peredaran Pemerintah jamin tidak ada kenaikan harga obat.

obat-hipertensi-131220b

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar, rupanya sempat mendobrak stabilitas harga obat-obatan jenis tertentu. Bukan hanya itu, sejumlah obat patent yang tergolong fast moving, juga menghilang dari peredaran. Padahal, obat-obatan itu sangat dibutuhkan bagi pasien yang ketergantungan terhadap produkan farmasi tersebut. Susi, salah seorang pemilik apotik di Pacitan, mengatakan, kenaikan harga obat cukup mencolok terjadi terhadap beberapa jenis obat resepan dokter atau obat-obatan import. Kenaikan tersebut sudah berlangsung sejak dua bulan sebelum ada kebijakan kenaikan harga BBM. “Sebelum ada kenaikan harga BBM, memang sudah ada kenaikan harga obat. Itu sebagai antisipasi kebijakan pemerintah yang tidak populis tersebut. Setelah fixed ada kenaikan harga BBM, harga obat menjadi patent kenaikannya,” ujar Susi, saat dikonfirmasi di apotiknya yang berlokasi di Jl. A. Yani, Rabu (3/12).

Susi menyebut, kenaikan harga obat berkisar antara 5 hingga 10 persen. Kecuali obat-obatan bebas, sejauh ini relative stabil. Kalaupun ada kenaikan, tidak segede obat-obatan resepan dokter. Namun yang dikeluhkan saat ini, justru beberapa jenis obat-obatan pemerintah yang tergolong fast moving, mulai menghilang dari peredaran. Diantaranya seperti gleben clamide, HCT, dan rivan picin. “Gleben clamide, sangat dibutuhkan penderita kencing manis. Begitu pula HCT, sebagai obat turun tensi, dan rivan picin, untuk penyakit paru-paru. Akan tetapi, sudah dua bulan ini, obat-obatan tersebut susah didapat. Bahkan hampir disemua apotik tidak ada yang menjualnya,” jelasnya, kemarin.

Kelangkaan obat-obatan jenis tertentu, juga dibenarkan Rachmad Dwiyanto, pemilik apotik lainnya di Pacitan. Apoteker yang juga menjabat sebagai Staff Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan itu mengatakan, selain tiga jenis obat patent diatas, juga masih banyak obat-obatan lain yang susah didapat. Misalnya seperti neurobion, asma soho, fenil butason, cemeron tablet, dramamin, dramacil, salbutamon, dan masih banyak lagi lainnya. “Obatan-obatan tersebut, sudah sejak lama menghilang dari peredaran,” timpalnya, ditempat terpisah.

Rachmad juga menyayangkan, terjadinya gonjang-ganjing soal ketersediaan obat-obatan patent itu. Soal ada kenaikan harga, sepanjang stok terpenuhi, mungkin tidak akan menjadi persoalan bagi masyarakat. “Tapi ini tidak seperti itu. Disaat harga naik, ketersediaan obat justru menipis, bahkan menghilang,” keluh mantan Kepala Dispendukcapil Pacitan itu, kemarin.

Dia memprediksi, kelangkaan obat-obatan patent jenis tertentu tersebut, dimungkinkan sebagai manifestasi strategi dagang yang dilancarkan perusahaan farmasi. Mereka sengaja menyimpan sampai harga kembali stabil atau setelah fixed ada kenaikan, baru diedarkan kembali. Alternatif kedua, karena produksi terhambat yang disebabkan minimnya ketersediaan bahan baku. Sebab, obat-obatan tersebut memang di import dari negara lain. Menyikapi persoalan tersebut, Rachmad, menegaskan, masyarakat penderita penyakit tertentu dan terbiasa mengkonsumsi obat-obatan tersebut, bisa menggunakan obat alternative yang memiliki kandungan sama. Meski diakuinya, hal tersebut sangat berpengaruh secara phsikis terhadap kesembuhan pasien. “Mereka sudah terlanjur tersugesti dengan obat-obatan itu sehingga sangat memengaruhi proses penyembuhannya,” bebernya.

Sementara itu Kepala UPT Gudang Farmasi, Dinas Kesehatan, Pacitan, Nunuk Irawati, menjamin, pemerintah tidak akan menaikan harga obat. Sebab pemerintah melalui Lembaga Kebijakan Penyelenggara Barang Pemerintah (LKPP), sudah melakukan kontrak payung dengan beberapa perusahaan farmasi, produsen obat. “Kontrak tersebut berlaku selama setahun. Sehingga kenaikan harga bahan baku ataupun inflasi yang tinggi, tidak akan berpengaruh terhadap stabilitas harga obat dilevel pemerintah,” jelas Nunuk.

Nunuk menegaskan, merunut pengalaman yang ada, hampir selama tiga tahun terakhir, memang belum pernah terjadi kenaikan harga obat-obatan pemerintah. Kalaupun sempat ada kenaikan, namun tidak seberapa. “Kecuali pada tahun 1998 silam, saat terjadi devaluasi terhadap rupiah, memang harga obat sempat melejit. Tapi sekarang sudah stabil,” tegasnya.(Yun).

Related posts