Puasa dan Tawadlu’ – Al-Ustadz Drs. Ahamad Sukina – Pimpinan Pusat Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)

Puasa mendidik umat Islam akan kehadiran Allah yang mengawasi dan menyertainya setiap saat. Meskipun berada di dalam kamar yang tertutup rapat orang yang berpuasa karena Allah tidak akan makan atau minum dengan sengaja sebelum tiba waktu berbuka. Hadirnya pengawasan dan penyertaan Allah di dalam hati seorang hamba menjadikannya bersikap hati-hati dalam beramal dan tha’at kepada aturan yang telah ditetapkan Allah. Tumbuhnya perasaan diawasi Allah sepanjang pagi hingga petang itu diharapkan terus bersemayam hingga malam hari dan terbit fajar kembali. Bahkan tidak hanya selama bulan Ramadlan, tetapi tembus masuk ke bulan Syawwal dan bulan-bulan yang lain sepanjang tahun, sehingga seorang hamba yang yang menjalankan ibadah puasa Ramadlan akan benar-benar menjadi hamba-Nya yang bertaqwa.
Haus dan lapar yang dirasakan sepanjang siang menyadarkan umat islam akan lemahnya manusia. Berangkat dari kesadaran akan lemahnya tubuh manusia tanpa minuman dan makanan diharapkan tumbuh rasa syukur kepada Allah, yang telah banyak memberinya rejeki, dan sikap tawadlu’, rendah hati dan tidak sombong kepada sesama makhluq, yang sama-sama memiliki sifat lemah. Hanya Allah yang Maha Besar, Maha Kuat dan Maha Perkasa. Tidak peduli rakyat atau pejabat, semua merasa lemah ketika lapar dan haus. Pangkat dan jabatan hanya merupakan titipan Allah yang bersifat sementara. Ummat Islam tidak layak membanggakan apalagi menyombongkan pangkat dan jabatannya, karena ketika pangkat dan jabatan itu diambil kembali oleh Allah, dia akan kembali lemah, seperti lemahnya orang yang lapar dan haus saat berpuasa. Tidak pandang bulu, kaya atau miskin, semuanya akan merasa lemah ketika berpuasa. Harta kekayaan hanyalah titipan Allah yang tidak layak untuk dijadikan kebanggaan, karena ketika harta kekayaan itu diambil kembali oleh pemiliknya, dia akan kembali lemah, seperti lemahnya orang yang lapar dan haus saat berpuasa.
Saudaraku, ibadah puasa Ramadlan penuh dengan lautan berkah. Berangkat dari sikap tawadlu’ yang terbentuk pada diri seseorang karena puasa, akan tumbuh perasaan bahwa semua manusia itu adalah sama, sama-sama lemah di hadapan Allah. Maka tidak layak bagi manusia untuk bersikap sombong, yang didefinisikan oleh Rasululah SAW sebagai batharul-haqq wa ghamtunnaas (menolak kebenaran dan merendahkan orang lain). [HR.Muslim juz 1, hal. 93]. Kebenaran itu datangnya dari Allah, mengapa ditolak? Mereka yang menolak kebenaran pasti menerima kebathilan. Manusia itu sama-sama lemah, mengapa saling merendahkan. Mereka yang merendahkan sesama manusia, pasti bangga terhadap dirinya sendiri, sombong dan kehilangan sikap tawadlu’. Padahal Rasulullah SAW telah memberi peringatan: Laa yadkhulu ljannata man kaana fii qalbihii mitsqaalu dzarratin min kibrin. (Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan). [HR. Muslim juz 1, hal. 93]. Oleh karena itu bersyukurlah mereka yang dianugerahi sikap tawadlu’ karena ibadah puasa Ramadlan. Mereka sadar kekuatan yang dimilikinya hanyalah titipan Allah untuk dimanfaatkan di jalan Allah. Kekayaan yang dimilikinya hanyalah titipan Allah untuk dimanfaatkan di jalan Allah. Pangkat dan jabatan yang dimilikinya hanyalah titipan Allah untuk dimanfaatkan di jalan yang diridlai-Nya. Semoga kita termasuk hamba Allah yang pandai memanfaatkan kesempatan ibadah Ramadlan 1435 H ini, untuk mendidik diri menjadi hamba-Nya yang tawadlu’, aamiin.

Related posts