Kegemukan Berpotensi Memicu Diabetes

Jika anda suka ngemil dan makan maka tidak ada salahnya jika anda punya makanan favorit berupa permen atau cokelat. Namun sebagian besar orang yang tahu mungkin akan mewanti-wanti jangan sampai kebanyakan makan karena mereka khawatir anda terserang diabetes alias sakit gula. Namun benarkah mengkonsumsi makanan dengan kandungan gula tinggi langsung berisiko meningkatkan risiko diabetes?
Memang benar diabetes adalah penyakit dimana dalam darah penderitanya terkandung glukosa yang merupakan salah satu jenis gula dalam kadar berlebihan. Tapi bukan berarti ini karena anda kebanyakan makan gula, bahkan sebenarnya ini mitos, tidak ada hubungannya, terang Profesor Ian Caterson dari University of Sydney. Caterson menambahkan kebanyakan makan makanan yang mengandung gula tinggi dapat menyebabkan berat badan melonjak. Berat badan diatas ideal inilah yang dapat memicu diabetes yang paling umum, yaitu diabetes tipe 2. Namun mengonsumsi makanan yang tidak sehat dalam jumlah berlebih juga akan menimbulkan akibat serupa.
Jadi diabetes tipe 2 itu lebih karena kelebihan berat badan, terutama di seputaran pinggang, daripada karena mengkonsumsi makanan tertentu, simpulnya seperti dikutip dari ABC Australia.
Lantas, bagaimana bisa kelebihan berat badan menyebabkan sakit gula? Sebenarnya glukosa merupakan salah satu sumber energi utama tubuh. Biasanya setelah makanan yang mengandung glukosa seperti kentang, roti, pasta, nasi, buah dan susu tertelan dan dicerna, glukosa ini akan dilepaskan dan diserap ke dalam aliran darah, lalu diangkut ke sel-sel tubuh dengan kendali insulin.
Akan tetapi Caterson menjelaskan bila ada lemak ekstra yang menumpuk dalam tubuh, maka insulin yang dihasilkan juga harus lebih banyak. Pada akhirnya kebutuhan insulin menjadi begitu tinggi sehingga pankreas yang merupaka penghasil insulin tidak dapat memenuhi pasokan insulin yang dibutuhkan. Akibatnya terjadinya diabetes.
Penderita diabetes memiliki kadar gula darah yang tinggi karena mereka masih menyerap gula dari makanan akan tetapi tidak bisa mencernanya dengan cepat dan tepat, kata direktur Boden Institute of Obesity, Nutrition Exercise & Eating Disorders, University of Sydney tersebut.
Selain itu, penumpukan glukosa dalam darah tadi ujung-ujungnya juga akan merusak pembuluh darah dan dari sinilah muncul risiko serangan jantung, stroke, gangguan ginjal, mata, kaki hingga saraf.

Related posts