Kanker Darah Sirna Karena Ketulusan dan Keikhlasan

Cerita ini baru terungkap sekarang dan sudah berlangsung sekitar 15 tahun yang lalu saat aku kuliah di Jogja. Saya punya teman wanita waktu di Jogja. Sebut saja namanya Nanda. Jujur aku sebenarnya dulu naksir sama dia karena agama dan kepribadiannya yang baik serta ketaatannya beibadah pada Allah. Tetapi aku ternyata lupa bahwa segala sesuatu yang berkuasa penuh untuk menentukan jalan kehidupan adalah Allah. Temanku ini punya penyakit kanker darah. Aku memilih untuk tidak serius menginginkannya di masa datang. Aku hanya cukup menjadi sahabatnya untuk menemani hari harinya yang aku fikir hanya tinggal sesaat saja karena kanker darahnya itu. Karena aku berfikir darimana aku mendapatkan uang setiap minggunya untuk cuci darah yang biayanya tidak murah itu. Dan pasti umurnya juga tidak akan lama lagi. Inilah kepicikanku melupakan Illah.
Suatu saat ada seorang pria teman kuliahnya dan berkenalan baik. Sebut saja namanya Dimas. Kemudian dia menyatakan untuk melamarnya dengan segala keberaniannya. Aku berfikir anak ini gila kayaknya. Dia saja masih kuliah berani beraninya melakukan hal tersebut. Karena saya memang dekat dengan keluarga Nanda maka orang tuanya juga berdiskusi dengan saya. Diskusi juga dilakukannya kepada teman teman yang lainnya. Ibu Nanda agak matre sih. Tetapi mungkin juga wajar karena orang tua tentu saja tidak akan membiarkan anaknya tak terurus apalagi tidak bahagia nantinya. Lama sekali orang tua Nanda berfikir dan memberi jawaban kepada Dimas. Dari sisi pemikiran Nanda tidak masalah karena dia berfikir kalau Dimas bersungguh sungguh maka dia akan qanaah kepada Allah. Dan pada saat istiharah beberapa kali Nanda yakin benar kalau Allah meridoi Dimas menjadi jodohnya dunia dan akhirat.
Orang tua Nanda membolehkan dengan syarat dilakukan operasi. Dimas menyetujui dan akan memberikan subsidi sebisanya. Dimas berusaha keras bekerja sepenuh hati dan selalu berdo’a untuk niat baiknya tersebut. Dia tidak kenal lelah sedikitpun untuk itu. Karena dia yakin benar rezky yang dia kumpulkan dari usahanya akan membuahkan hasil untuk calon istri tercintanya. Pada hari yang telah ditentukan Dimas hanya bisa mengumpulkan uang 3 juta rupiah. Dan dia serahkan semua kepada orang tua Nanda. Tentu saja sejumlah uang itu belum cukup. Tapi orang tua Nanda trenyuh sekali dengan pemberian subsidi Dimas yang sepenuh hati dan dengan bangga menyerahkan rezky halal itu kepada orang tua Nanda.
Hari yang ditentukan operasi terjadi. Semua berkumpul di salah satu Rumah sakit di Semarang. Sebelum operasi Dimas menguatkan hati Nanda untuk qanaah saja kepada ALlah. Apapun hasilnya itu yang terbaik untuk Nanda dari Allah. Nanda sepakat. Nanda juga sangat optimis dengan ijin Allah operasi akan berhasil. Mereka berdua berdoa dan memasrahkan hasil operasi mutlak kepada Allah apapun hasilnya. Mereka berdua berjanji akan selalu memuja Allah dan berjihad di jalan Allah.
Nanda sudah berpakaian operasi dan masuk ke ruang operasi. lampu ruang operasi sudah menyala. Semua sudah siap pada tugasnya masing – masing. Saat dokter akan memulai membius Nanda, tiba – tiba seorang suster masuk ke ruang operasi. Dan dia bilang pada dokter, “dok sebelum operasi silahkan dokter baca hasil lab terakhir ini dok”. Dan dokter kemudian memerintah kan untuk mematikan lampu dan membatalkan operasi. Dokter kemudia keluar dari ruang operasi
Semua heran melihat kejadian tersebut dan ibu Nanda bertanya kepada dokter, ada apa dok ? kenapa tidak jadi ? DOkter tersebut berkata menurut hasil lab yang terakhir, kanker darah itu sudah tidak ada. Semua sangat heran dengan kejadian tersebut. Tapi tidak sama sekali bagi Dimas dengan keyakinan cintanya yang tulus lillahitaala tanpa ada maksud apapun kecuali Ridha Allah semata dan tujuannya untuk menyempurnakan iman dan ibadahnya ternyata bisa membunuh virus yang mengidap pada diri Nanda. Dimas dan Nanda juga sangat yakin dengan ketulusan dan kepasrahannya kepada Allah itu yang akan mengobati apapun pada diri mereka.
Sudah 15 tahun berlalu saya ingat cerita ini dan saya ungkapkan agar menjadi pelajaran bagi kita semua. Untuk selalu memohon pada Illah bukan kepada iblis dalam segala hal apapun itu. Apapun yang terjadi setelah kita memohon kepada ALlah maka hasilnya adalah yang terbaik bagi kita manusia menurut versi Allah dan bukan versi manusia. Mensyukuri apa yang sudah kita miliki dan menjihadkannya dijalan Allah jauh lebih baik daripada kita menginginkan yang lebih lagi.
Rabb tetapkan hatiku untuk selalu memujaMu dan hindarkan aku dari iblis terkutuk.

Related posts