Menentukan Awal Ramadhan dan Idhul Fitri

Berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw, “Bershiyamlah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra.)
Menjelang datangnya bulan Ramadhan dan Idhul Fitri, seringkali masyarakat dipusingkan dengan informasi terkait hilal yang barangkali jadi perbincangan tiap tahun. Pertanyaannya kenapa ya hari besar lainnya kok tidak diributkan ?
Berdasarkan informasi dari BMKG (www.bmkg.go.id), waktu konjungsi (ijtimak) alias bulan mati/habis pada penghujung Sya’ban jatuh pada hari Jumat 27 Juni’14 pukul 15.09 WIB. Artinya, pengamatan hilal bisa dilakukan pada matahari terbenam sesudahnya di hari yg sama.
Berdasarkan penghitungan, posisi bulan baru (hilal) di seluruh wilayah Indonesia pada matahari terbenam hari Jumat tersebut (27 Juni) berkisar -0,5 sampai 0,5 derajat.
Muhammadiyah dengan sistem hisab hakiki (penghitungan murni) dan wujudul hilal (munculnya bulan baru tidak harus terlihat) berpendapat bahwa malamnya sudah masuk 1 Ramadhan karena sudah positif diatas 0 derajat), sehingga Jumat malam sudah tarawih dan Sabtu (28 Juni) sudah mulai puasa.
Namun berdasarkan best practise, posisi bulan dibawah 2 derajat belum bisa dilihat, baik mata langsung maupun teropong. Sehingga, Pemerintah dan NU yang berpendapat dengan rukyatul hilal (visibilitas / terlihatnya bulan baru) kemungkinan besar (possibility >95%) memutuskan akan menggenapkan Sya’ban. Sehingga, 1 Ramadhan jatuh pada keesokan malam, yaitu Sabtu malam mulai tarawih dan mulai puasa hari Ahad atau 29 Juni.
Sedangkan utk penghitungan masuk Syawal, konjungsi terjadi pada Ahad 27 Juli 2014 pukul 05.42 WIB, sehingga pengamatan hilal bisa dilakukan pada matahari terbenam hari Ahad tersebut.
Menurut penghitungan, posisi bulan pada matahari terbenam hari Ahad tersebut di seluruh wilayah Indonesia adalah 2 sampai 3,5 derajat. Insya Allah dengan posisi tersebut, jika tidak ada mendung atau objek penghambat, bulan baru (hilal) akan terlihat. Kalaupun tidak menggunakan mata langsung, maka harusnya menggunakan teropong bisa karena di atas 2 derajat.
Sehingga untuk Idul Fitri 1 Syawal 1435, Insya Allah possibility > 95% baik Muhammadiyah maupun Pemerintah dan NU akan sama, yaitu hari Senin 28 Juli 2014 dan Ahad malam sudah takbiran. Mudah2an umat Islam Indonesia semakin memahami dasarnya.

Dipersembahkan Oleh

Related posts