Sering Online Bisa Turunkan Religiusitas? Aktivitas religi jadi menurun digantikan oleh online

Pada era mobile saat ini, pengguna perangkat pasti melakukan aktivitas online, setidaknya selama berjam-jam selama sehari. Kebutuhan online sudah menjadi hal umum untuk sekadar mencari informasi, berakualisasi dengan teman dan kolega.

Memang hal itu sudah menjadi nafas. Namun bagi pengguna yang kecanduan online, perlu menyimak hasil studi peneliti Institut Teknologi Massachusetts (MIT), AS, yang dipimpin oleh Allen Downey, ilmuwan komputer Olin College of Engineering, MIT.

Dalam studinya, melansir Cnet, Senin 7 April 2014, Downey menyebutkan terdapat hubungan signifikan antara peningkatan penggunaan internet dengan penurunan religiusitas.

Statistik yang disampaikan Downey berbicara. Antara 1990 dan 2010, disebutkan 25 juta orang AS telah meninggalkan keyakinan mereka, sedangkan berdasarkan studi Survei Sosial Universitas Chicago, Downey mengatakan munculnya internet berkaitan dengan merosotnya pengabdian pada agama.

Meski demikian, Downey menekankan aktivitas online tak menjadi faktor tunggal penurunan religiusitas. Pasalnya, terdapat faktor lain, misalnya lingkungan seseorang tumbuh. Jika seseorang tumbuh pada keluarga yang religius, kemungkinan besar ketaatan pada ajaran agama seseorang masih kuat.

“Faktor yang kuat mempengaruhi yakni pendapatan, pendidikan, status sosial ekonomi, maupuntempat tinggal,” ujar Downey.

Menariknya meski Downey menemukan hanya sedikit orang yang dilahirkan dalam keluarga yang religius, ia hanya menemukan 25 persen penurunan religiusitas yang diakibatkan pada faktor afliasi keluarga.

Menurutnya, faktor lain penyebab penurunan aspek spiritual ini yaitu pendidikan perguruan tinggi. Ini dibuktikan pada statistik penggunaan internet. Downey menemukan pada 2010, 25 persen orang yang online selama lebih dari 7 jam tiap hari. Artinya aktivitas religi jadi menurun digantikan oleh online.

Namun demikian, ia tetap menekankan hal penurunan religi bukan terjadi karena faktor tunggal saja.

“Penggunaan internet dapat mengurangi kemungkinan afiliasi agama. Ini tak memperhitungkan semua, tapi korelasinya signifikan,” kata dia.

Downey boleh saja memaparkan temuannya itu. Tapi temuan itu tak bisa menghalangi kalangan agamawan yang memanfaatkan teknologi untuk menyampaikan pesan religi.

Pemimpin umat Katolik dunia, Paus Fransiscus justru makin rajin dengan akun Twitternya. Ia kini trecatat memiliki 3,8 juta follower.Source:vivanews.com

Related posts